<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>O. Solihin</title>
	<atom:link href="http://osolihin.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://osolihin.com</link>
	<description>katakan kebenaran itu meskipun terasa pahit</description>
	<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 23:05:56 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jangan Takut Hadapi UN</title>
		<link>http://osolihin.com/jangan-takut-hadapi-un</link>
		<comments>http://osolihin.com/jangan-takut-hadapi-un#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 23:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coretanku]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>

		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Persoalannya bukan melihat kekuatan atau kemampuan yang kita miliki semata, tapi juga sikap mental untuk menghadapi kondisi tertentu dan berusaha agar tidak tegerus meskipun dengan kemampuan seadanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong></strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-401" title="belia-utama-nyontek" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2010/03/belia-utama-nyontek.gif" alt="belia-utama-nyontek" width="250" height="166" />Bro en Sis, ngomongin rasa takut, saat ini ada banyak siswa kelas XII atau kelas IX yang lagi deg-degan menghadapi UN (Ujian Nasional). Kalo nilainya jeblok pas ujian tersebut alamat bakalan nggak lulus. Duh, siapa yang nggak takut? Udah gitu malu lagi. Hmm.. wajar sih punya perasaan seperti itu. Tetapi yang nggak wajar adalah kamu nggak berupaya untuk meminimalisir rasa takut tersebut. Termasuk kalo nggak berusaha sedikit pun untuk mengatasinya. Logika sederhananya kan, kalo takut gagal ujian, ya belajar dong. Kadang, yang udah belajar aja masih gagal ujian apalagi yang nggak belajar. Iya nggak sih?</p>
<p><strong>Siapkan mental</strong></p>
<p>Sobat, kadang pada kondisi tertentu, kemauan lebih utama dari kemampuan. Maksudnya, kemauan untuk belajar, kemauan untuk mengubah keadaan, kemauan untuk bersusah payah mengatasi kendala akan bisa mengalahkan mereka yang memiliki kemampuan tapi malas belajar, tapi tidak mau mengubah keadaan, dan tidak sabar dalam mengatasi kendala. Inilah yang kita sebut kesiapan mental. Kita sudah cukup banyak lho menyaksikan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Saya pernah tahu ada teman yang kalo dari segi IQ itu kalah jauh dibanding teman lainnya. Tapi, dia rajin belajar. Rajin berlatih. Akhirnya dia dapat prestasi juga. Jadi, persoalannya bukan melihat kekuatan atau kemampuan yang kita miliki semata, tapi juga sikap mental untuk menghadapi kondisi tertentu dan berusaha agar tidak tegerus meskipun dengan kemampuan seadanya.</p>
<p>Klub sepakbola yang kaya raya dan bertabur bintang serta bejibun prestasi, Manchester United, pernah dikalahkan lho sama tim dari divisi di bawahnya dalam kompetisi Piala FA,. Leeds United. Jadi, kemampuan dan kekuatan bukan segalanya. Kalo sikap mentalnya pada saat bertanding sedang lamah bin loyo ya bisa kalah.</p>
<p>Jadi, kalo sekarang kamu akan ngadepin UN, jangan kepikiran hal-hal negatif. Jangan dipikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi seperti: takut nggak bisa ngejawab soal, takut nilainya buruk, dan akhirnya yang kepikiran takut gagal ujian. Lha, buat apa kamu belajar selama ini kalo masih takut juga dengan hal-hal yang belum tentu terjadi? Ini ibarat dalam ujian kehidupan lho. Apapun yang terjadi, kita harus fokus pada tujuan dan berusaha meraih hasil maksimal. Tetapi kalo tujuan itu tidak tercapai, bukan berarti menyesal seumur-umur dan kamu kecewa selamanya. Nggak lah ya. Ambil sisi positifnya. Kamu bisa rencanakan skenario berikutnya sambil menyiapkan semua yang diperlukan. Nikmati aja. Tapi jangan khawatir, insya Allah jika kamu udah berusaha maksimal, kamu pantas untuk mendapatkan hasil terbaik yang diberikan Allah Swt. Jangan sampe kita berharap mendapat hasil maksimal, tapi belajar aja nggak. Iya kan?</p>
<p><em>So</em>, sikap mental perlu kamu miliki untuk hadapi UN. Mental juara layak dipupuk. Meski demikian, kamu perlu lapang dada jika hasilnya belum maksimal. Sebab, dalam sebuah pertandingan, adakalanya seorang jawara menjadi pecundang. Siapkan mental untuk fokus hadapi UN. Semaksimal kekuatan dan usaha yang kamu miliki. Selebihnya, serahkan kepada Allah Swt. Biarlah Allah Swt. yang menyempurnakan usaha kita. Tawakal sajalah. Sebab, untuk mewujudkan tawakkal bukan berarti meniadakan usaha. Nggak lah. Usaha terus, hasilnya serahkan kepada Allah Swt. Oke?</p>
<p><strong>Belajar dengan strategi</strong></p>
<p>Bro en Sis, setiap orang pasti memiliki cara atau strategi untuk mencapai hasil terbaik dari setiap tujuannya. Strategi mutlak diperlukan lho. Dalam ilmu beladiri aja ada banyak teknik menyerang dan bertahan. Maka, tak heran jika muncul beragam teknik beladiri dari berbagai negara: karate, aikido, taekwondo, tarung drajat, gulat, silat, kung fu, capoera, dan lain sebagainya. Dalam dunia sepakbola juga ada strateginya lho. Meski kita nggak jadi pelatih atau pemain sepakbola profesional, setidaknya kita bisa baca, apalagi kalo main gim Champion Manager, di situ ada simulasi menerapkan berbagai strategi dalam bermain sepakbola. Kita mungkin kenal teknik <em>Catenaccio</em> (Italia), <em>Kick and Rush</em> (Inggris), <em>Total Football</em> (Belanda) dan adu jotos ala ISL (hehehe.. sori bukan nyindir, tapi faktanya sepakbola kita seringnya ricuh sih).</p>
<p>Nah, ternyata dalam belajar juga ada strateginya lho. Tiap orang pasti beda-beda caranya. Boleh-boleh saja. Selama itu diyakini akan memberikan hasil positif dari apa yang kita upayakan. Guru-guru di sekolah juga pasti punya gaya mengajar berbeda-beda. Tapi selama yang diajarkanya sesuai dengan kurikulum tentunya akan memudahkan untuk memahaminya dan menjawab soal-soal yang diujikan. Untuk bisa mendapat hasil maksimal dalam ujian, tentunya tidak instan alias perlu perjuangan yang mungkin saja memakan waktu, menyedot energi, menguras pikiran dan perasaan. Itu, hanya bisa ditempuh sejak kamu memutuskan masuk sekolah. Jadi tentu sangat mengkhawatirkan kalo kamu baru belajar serius-meski dengan strategi jitu-ketika jadwal ujian nasional seminggu lagi. Wedeh, ajaib aja kalo sampe berhasil.</p>
<p>Berikut ini ada tips belajar yang bisa kamu coba (meski mungkin tulisan ini termasuk telat ya karena jadwal ujian udah dekat):</p>
<p>Pertama, <em>preview</em> semua materi pelajaran yang akan diujikan. Maksud <em>preview</em> di sini adalah men-survei secara umum materi-materi yang ada dalamnya. Bila perlu menandai beberapa bagian yang dianggap penting dan kemungkinan besar akan terdapat dalam soal ujian. Kamu bisa konsultasikan dengan guru pelajaran tersebut dan minta sarannya.</p>
<p>Kedua, supaya belajarnya lebih maksimal, cobalah susun semacam pertanyaan-pertanyaan untuk membantu memahami topik tertentu. Pertanyaannya bisa kamu buat sendiri. Misalnya, apa sih reaksi reduksi-oksidasi itu?; &#8220;mengapa bisa tejadi demikian?&#8221;; atau pertanyaan lain: &#8220;genetika adalah&#8230;&#8221;; &#8220;apa yang menyebabkan sebuah benda padat larut?&#8221; dan sebagainya sesuai dengan mata pelajaran yang akan diujikan. Ini cuma contoh aja dari saya yang kepikiran kalo lagi belajar. <em>Question</em> atau pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu kita buat agar memudahkan pemahaman.</p>
<p>Ketiga, <em>read</em>. Tentu saja untuk memahami materi pelajaran tertentu kamu harus membacanya secara cermat sambil mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang udah kamu susun tadi.</p>
<p>Keempat, <em>reflect</em>. Selama membaca materi pelajaran, hendaknya kamu &#8216;mengenangnya&#8217; secara mendalam (dipikirkan), seraya berusaha memahami isi dan menangkap contoh-contohnya serta menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. <em>So</em>, ini akan menjadi aktivitas belajar yang menyenangkan, karena bukan menghapal, tapi memahami.</p>
<p>Kelima, <em>recite</em> alias diingat. Nah, kalo sebuah subbab atau dalam satu mata pelajaran selesai dibaca, informasi yang ada di dalamnya kudu diingat-ingat. Lalu semua pertanyaan mengenai subbab tersebut dijawab. Kalo ada jawaban yang menurut kamu kurang maksimal atau malah salah, kamu bisa baca lagi secara cermat dan teliti agar lebih paham.</p>
<p>Sebenarnya masih banyak strategi dalam belajar. Kalo ditulis semua kayaknya nggak cukup deh dalam satu lembar buletin ini. Tetapi mudah-mudahan meski cuma satu strategi belajar kamu bisa mengambil manfaatnya.</p>
<p><strong>Tawakkal, Bro! </strong></p>
<p>Tawakkal itu di awal. Artinya, sebelum memulai usaha yang hendak kita lakukan, kita udah tawakkal lebih dahulu kepada Allah Swt. bahwa hanya Allah Swt. saja yang akan memberi pertolongan kepada kita, bukan yang lain. Terus, kita menyerahkan segala keputusan kepada Allah Swt. Lanjutkan dengan niat yang kuat, sikap mental kita upgrade jadi lebih baik, dan tentu saja usaha untuk belajarnya juga diupayakan maksimal, dan jangan lupa agar tak putus berdoa. Sip banget kan?</p>
<p>Jangan salah paham terhadap tawakkal lho. Untuk mewujudkan tawakkal, bukan berarti meniadakan usaha. Nggak <em>atuh</em>. Allah Swt. berfirman: <em>&#8220;Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.&#8221;</em> <strong>(QS Huud [11]: 123)</strong></p>
<p>Dalam ayat lain dijelaskan bahwa tawakkal adalah salah satu buah keimanan: <em>&#8220;Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.&#8221;</em> <strong>(QS al-Maaidah [5]: 23)</strong></p>
<p>Allah Swt. juga berfirman: <em>&#8220;(Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.&#8221;</em> <strong>(QS at-Taghaabun [64]: 13)</strong></p>
<p>Nah, setelah tawakkal langsung wujudkan dengan usaha, Bro. Jangan bengong aja. Ada satu kisah menarik yang perlu kita jadikan bahan pelajaran. Di masa Imam Ahmad bin Hanbal ada seorang yang malas bekerja dan masa bodoh. Ketika beliau bertanya mengenai sikapnya itu, ia menjawab: &#8220;Saya telah membaca hadis Rasulullah saw. yang mengatakan: <em>&#8220;Jika saja kamu sekalian bertawakkal kepada Allah dengan sepenuh hati niscaya Allah akan memberi rizki untukmu sekalian, sebagaimana Ia memberinya kepada burung; burung itu pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.&#8221;</em> <strong>(HR Tirmidzi dan Ibnu Maajah)</strong></p>
<p>Terus dia bilang lagi, &#8220;maka sebab itu saya tawakkal kepada Zat yang memberi rizki kepada burung itu.&#8221;</p>
<p>Imam Ahmad lalu mengatakan: <em>&#8220;Kamu belum mengerti maksud hadis tersebut. Rasulullah menyebutkan bahwa pulang-perginya burung itu justru dalam rangka mencari rizki. Jika burung itu duduk saja di sarangnya, tentulah rizkinya tidak akan datang&#8221;</em> <strong>(Muhammad al-Ghazali dkk, <em>Wasiat Takwa</em>, terjemahan Husein Muhammad, hlm. 139)</strong></p>
<p><em>So</em>, artinya memang selain harus tawakkal hanya kepada Allah Swt., tetapi kudu ada upaya dari kita untuk mewujudkannya.</p>
<p>Oke deh, semoga pembahasan singkat ini mampu menyemangati dan menginspirasi kamu agar siap hadapi UN tahun ini. Jangan lupa tetap tawakkal hanya kepada Allah, giat belajarnya, rajin berlatih dan jangan pernah putus berdoa. Tetap semangat! <strong>[dimuat di <a href="http://www.gaulislam.com/jangan-takut-hadapi-un" target="_blank">buletin remaja gaulislam</a>, edisi 124/tahun ke-3, 8 Maret 2010]</strong></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/jangan-takut-hadapi-un" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/jangan-takut-hadapi-un/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hitam-Putih Facebook</title>
		<link>http://osolihin.com/hitam-putih-facebook</link>
		<comments>http://osolihin.com/hitam-putih-facebook#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 19:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coretanku]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[facebook]]></category>

		<category><![CDATA[gaul]]></category>

		<category><![CDATA[gaulislam]]></category>

		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[Namun demikian, dunia maya tetaplah dunia maya. Tak selamanya kita hidup di dunia tersebut. Emangnya kalo mau nikah bisa secara virtual? Hehe.. nanti anaknya virtual juga dong? Tetap saja kita akan lebih banyak berhubungan di dunia nyata. Meski dunia maya lebih menggoda, tapi waspadalah, kita tetap hidup bersama orang lain yang bisa saja mereka berbuat nggak benar kepada kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-398" style="border:0;" title="facebook" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2010/02/facebook-300x225.jpg" alt="facebook" width="300" height="225" />Setelah kasus heboh Nova-Ari yang mengaku mereka suka sama suka melakukan hubungan badan, Facebook kian disorot. Khususnya sisi negatifnya. Ya, melalui perantaraan situs jejaring sosial inilah Nova dan Ari bertemu dan sekaligus dilanjutkan berkencan di dunia nyata. Nggak hanya kasus Nova-Ari, berikutnya muncul kasus &#8216;menghilangnya&#8217; gadis berumur 20 tahun asal Bantul. Ada juga mahasiswi asal Jambi yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tak diketahui jejaknya, dan belakangan ketahuan kalo dia ada di suatu tempat bersama kekasihnya asal Brebes. Pertemuan mereka, via Facebook. Oya, nggak ketinggalan kasus 4 orang siswa yang dipecat dari sekolahnya gara-gara menghina salah seorang guru mereka. Nah, mereka melakukan penghinaan tersebut di Facebook. Waduh!</p>
<p>Bro en Sis, deretan fakta terbaru untuk saat ini tentang sisi negatif Facebook perlu menjadi perhatian kita semua. Jangan sampe kejadian tersebut juga menimpa kita. Ih, nggak banget deh! Fakta ini pun sekaligus meyakinkan kita semua bahwa teknologi, tetap saja memiliki sisi positif sekaligus negatif. Kita perlu waspada deh kalo kenyataannya kayak gini sih.</p>
<p><strong>Fenomena Facebook</strong></p>
<p>Facebook memang fenomenal! Situs jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg ini digilai oleh lebih dari 350 juta manusia di seluruh dunia. Di sini setiap orang bisa berkomunikasi, bergaul, berinteraksi, bahkan bertransaksi bisnis. Facebook menjadi dunia sendiri. Dunia yang dihuni oleh ratusan juta orang yang memang senang berhubungan dengan sesamanya. Ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial.</p>
<p>Fasilitas yang diberikan Facebook memang tak tanggung-tanggung. Selain daftarnya free alias gratis, juga di dalamnya terdapat fasilitas standar yang dibutuhkan manusia dalam berkomunikasi di dunia maya. Facebook sudah menanam beragam fitur yang oke punya (setidaknya sampai saat ini). Ada &#8220;note&#8221; ini untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran kita. Catat sepuasnya di sana. Jika belum puas bahwa catatan kita akan dibaca banyak orang, kita bisa bikin grup. Facebook menjembatani upaya merengkuh banyak orang melalui sebuah grup.</p>
<p>Masih ingat kan tentang dukungan Facebookers (sebutan untuk jamaah facebookiyah alias orang-orang yang bergaul di dalam komunitas Facebook) terhadap KPK, khususnya Bibit dan Chandra? Juga menggalang dukungan bagi Prita dan Balqis. Melalui grup ini, pembuatnya bisa mengundang banyak orang untuk bergabung. Disediakan juga &#8220;Wall&#8221; tempat menumpahkan segala pendapat. Member grup bisa mengeluarkan unek-uneknya di sini. Kalo mau kirim pesan juga bisa. Menyebarkan pesan berharga kepada sebanyak orang itu, dan dengan fasilitas yang gratis, tentu sangat menyenangkan. Kita hanya membayar pulsa telepon atau bayar di warnet, bisa juga nebeng dari fasilitas kantor.</p>
<p>Selain bikin &#8220;grup&#8221; dan &#8220;note&#8221;, pengelola Facebook juga memahami betul keinginan manusia untuk interaksi, maka fasilitas chat disediakan, pencarian teman yang unik yang dilacak berdasarkan nama perusahaan, asal sekolah, asal daerah, dan sejenisnya. Selama member yang bersangkutan meng-input data yang sebenarnya, maka biarkan mesin pintar Facebook mencarikannya untuk kamu. Saya sering mengalaminya. Tiba-tiba muncul &#8220;saran teman&#8221; dari Facebook di beranda akun kita. Beberapa kali mengamati nama-nama yang muncul memori saya mengingatkan masa lalu. Hehehe.. ada teman yang pernah ngilang sejak lulus SMP sekitar 20 tahun yang lalu, eh ketemu lagi. Ada yang <em>loss contact</em> sejak beberapa tahun lalu, tiba-tiba nongol dan nyapa minta di-<em>confirm</em> jadi teman. Wah, asik benar.</p>
<p>Oya, pengguna Facebook tahu betul fitur-fitur yang ada di dalamnya. Termasuk fasilitas &#8220;status&#8221; kita yang selalu &#8216;ditanya&#8217; &#8220;apa yang anda pikirkan?&#8221; Lalu kita jawab semau kita. Ada yang ngocol, ada yang asal tulis, ada yang protes, ada yang maki-maki, pengeluh, tukang ngasih motivasi, ada yang jualan, dan sebagainya. Di situ setiap orang yang sudah tergabung dengan orang tersebut bisa tahu update statusnya dan bisa ngasih komentar. Paling banter kalo malas ngasih komen, cukup ngasih &#8220;jempol&#8221; dengan meng-klik &#8220;like/suka&#8221; terhadap status temannya tersebut. Tapi, di sini kudu ati-ati lho, karena siapa tahu kamu malah jadi ngikutin jejak Evan Brimob yang bikin heboh karena komentarnya yang emosional menyikapi kasus KPK vs Polri. Hehehe&#8230; yang aktif di Facebook pasti tahu deh kasus detilnya. Iya nggak?</p>
<p>Bro en Sis, inilah Facebook, salah satu situs jejaring sosial yang ngetren saat ini. Saya punya pengalaman tentang hal ini. Seorang tetangga paman saya di Bandung, minta dibikinkan akun facebook saat saya <em>browsing</em> internet pas berkunjung ke sana dalam suatu acara. Meski dengan pengetahuan seadanya, ia nekat minta dibikinkan akun facebook. Ya, gimana nggak bisa disebut seadaanya, wong istilah e-mail saja dia masih bingung. Sami mawon dengan cara buat e-mail, dia nggak tahu. Padahal, untuk bisa daftar ke facebook kudu punya e-mail. Akhirnya, ya dibuatkan dulu e-mailnya. Lucunya, alasan yang bersangkutan pengen punya akun facebook biar bisa gaul. Nggak kuper lah. Hehehe.. padahal usia udah menjelang pensiun, anaknya udah ada yang kuliah. Tragisnya, pake komputer aja masih gagap. Tapi, dia nggak putus asa, karena Facebook bisa diakses via ponsel. Waduh, benar-benar sudah tergoda Facebook. Prikitiw!</p>
<p>Lain waktu, teman saya cerita bahwa supir mobil odong-odong minta dibikinkan akun Facebook. Oya, istilah odong-odong ini untuk angkutan umum yang kendaraannya udah nggak ada surat-suratnya, operasinya di jalur khusus giliran dengan tukang ojek. Biasanya ke dalam komplek perumahaan yang jauh dari jalan raya. Teman saya yang jaga warnet itu sempat bingung, tapi kemudian supir mobil odong-odong itu bilang bahwa nanti pakenya di ponsel. Wedeh, gaul juga nih supir mobil odong-odong!</p>
<p><strong>Dunia maya lebih menggoda?</strong></p>
<p>Sejak kenal dunia maya, saya penasaran banget. Kenapa penasaran? Karena bisa berhubungan dengan banyak orang di &#8217;seberang&#8217; sana hanya melalui komputer yang terhubung dengan modem dan perangkat lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan internet. Meski komunikasi lebih banyak via tulisan, tapi rasanya asik-asik aja. Pertama kali diajari chatting, langsung nyetel dan betah berlama-lama. Apalagi ketika sudah kenal e-mail, wuih, makin anteng aja dah di depan komputer. Punya e-mail seperti punya alamat kotak pos sendiri. Urusan komunikasi jarak jauh lebih lancar terjalin. Meski tentu saja nggak interaktif. Tapi tetap asik. Lebih keren lagi ketika era web 2.0 yang ditandai dengan munculnya blog, maka komunikasi di dunia maya jadi lebih dinamis dan lebih variatif. Bahkan melalui blog yang dimilikinya, seorang blogger bisa menyampaikan pendapatnya tanpa perlu kena sensor pihak lain. Kecuali kalo diketahui melanggar <em>term of service</em> yang dibuat situs penyedia blog gratis tersebut, maka situs itu bakalan dibekukan.</p>
<p>Bro en Sis, dunia maya itu ibarat pasar. Apa aja ada. Mau yang gratis, harga murah, dan juga harga mahal. Semua bisa diatur dan ada. Konten atau isi situs yang halal, yang subhat, bahkan yang haram tersedia di sana. Tergantung kita, apakah akan memilihnya atau tidak. Semua berdasarkan pilihan dan tentu saja ada konsekuensinya atas pilihan tersebut. Dunia maya sama seperti halnya dunia nyata, ada yang buruk dan ada yang baik. Ada yang tercela dan ada yang terpuji. Ada yang halal dan ada yang haram. Pornografi ada, judi ada, gosip bejibun, fitnah marak, motivasi kehidupan banyak, dan dakwah pun gencar. Kebaikan akan selalu berhadapan dengan keburukan. Kesalahan akan bertarung dengan kebenaran. Kelebihannya (sekaligus kekurangannya) di dunia maya, semua orang bisa jadi apa saja dan bisa jadi siapa saja. Phew!</p>
<p>Iya, karena meski di dunia nyata dan dunia maya bisa sama-sama berbohong, tapi di dunia maya kebohongan kita sulit dideteksi. Jika di dunia nyata orang tak mudah untuk mengelabui orang lain dengan penampilan beda jenis, tapi dunia maya hal itu bisa dilakukan. Kita hampir tidak pernah bisa melacak keberadaan seseorang apakah dia berjenis kelamin laki-laki atau wanita. Kita pun hampir tak pernah bisa mendeteksi apakah teman misterius itu baik atau jahat. Ya, di satu sisi, orang bisa &#8216;bersembunyi&#8217; untuk menasihati orang lain, dan hal itu bisa menjadi kebaikan karena ingin ikhlas dalam beramal. Tapi di sisi lain, orang bisa &#8217;sembunyi&#8217; untuk melakukan kemaksiatan, dan tentu bisa menjadi bahaya dan dosa bagi pelaku dan juga orang lain. Waspadalah!</p>
<p>Dunia maya memang lebih menggoda. Baik untuk hal yang bermanfaat maupun berbuat jahat. Sebenarnya sama dengan di dunia nyata. Orang bisa berbuat salah dan bisa berbuat baik. Namun, di dunia maya orang akan lebih &#8216;agresif&#8217; karena halangan-halangan seperti minder, malu, segan, dan rasa inferior lainnya, bisa dikikis habis di balik topeng kepalsuan (jika mau). Percaya atau tidak, banyak yang sudah membuktikannya. Saya juga insya Allah banyak tahu bahwa ada orang yang lebih tampil percaya diri di dunia maya, padahal aslinya di dunia nyata dia orang yang agak minder. Well.. dunia maya memang lebih memberikan atmosfir rasa yang lain. Seringkali bisa &#8216;memanipulasi&#8217; fakta yang sesungguhnya dan bisa juga menjadi pemicu orang untuk menunjukkan kemampuan terpendamnya (termasuk aksi jahatnya).</p>
<p>Namun demikian, dunia maya tetaplah dunia maya. Tak selamanya kita hidup di dunia tersebut. Emangnya kalo mau nikah bisa secara virtual? Hehe.. nanti anaknya virtual juga dong? Tetap saja kita akan lebih banyak berhubungan di dunia nyata. Meski dunia maya lebih menggoda, tapi waspadalah, kita tetap hidup bersama orang lain yang bisa saja mereka berbuat nggak benar kepada kita. <em>So</em>, sewajarnya sajalah. Jangan sampai lupa diri, lupa daratan, apalagi lupus alias lupa usia (umur udah bangkotan tapi kelakuan kayak bocah). Jangan juga mudah percaya sama orang yang belum kita kenal, apalagi awal mengenalnya via Facebook. Kalo diajak ketemuan, tolak saja. Nggak ada jaminan kan kalo dia bakalan baik sama kita? Terus, jangan  memberikan informasi detil tentang diri kamu.  Kita nggak tahu kan, kalo kita ternyata jadi  sasaran kejahatan mereka? <em>So</em>, waspadalah!<strong> [dimuat di <a href="http://gaulislam.com/hitam-putih-facebook" target="_blank">buletin remaja gaulislam</a>, edisi 122/tahun ke-3]</strong></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/hitam-putih-facebook" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/hitam-putih-facebook/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Valentine&#8217;s Day Tak Istimewa</title>
		<link>http://osolihin.com/valentines-day-tak-istimewa</link>
		<comments>http://osolihin.com/valentines-day-tak-istimewa#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 19:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coretanku]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[budaya]]></category>

		<category><![CDATA[jahiliyah]]></category>

		<category><![CDATA[kufur]]></category>

		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<category><![CDATA[valentine's day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Bro en Sis, bulan Februari ini orang-orang pada sibuk ngurusin keperluan Valentine&#8217;s Day (VD). Seolah, menjadi hajatan wajib yang kudu digelar tiap tahun. Nggak cuma remaja yang serius menyambut tanggal 14 Februari yang menurut mereka hari spesial, tapi orang dewasa dan anak-anak juga nggak mau ketinggalan ngeramein. Ada yang bener-bener menganggap bahwa VD adalah hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-393" title="valentine" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2010/02/valentine.jpg" alt="valentine" width="300" height="230" />Bro en Sis, bulan Februari ini orang-orang pada sibuk ngurusin keperluan Valentine&#8217;s Day (VD). Seolah, menjadi hajatan wajib yang kudu digelar tiap tahun. Nggak cuma remaja yang serius menyambut tanggal 14 Februari yang menurut mereka hari spesial, tapi orang dewasa dan anak-anak juga nggak mau ketinggalan ngeramein. Ada yang bener-bener menganggap bahwa VD adalah hari kasih sayang, tapi nggak sedikit yang cuma latah ikutan karena melihat banyak yang ngerayain dan sepertinya asik dilakuin. <em>So</em>, bulan Februari selalu identik dengan momen hari kasih sayang. Maka, nggak heran dong kalo tiap tahun tanggal 14 Februari dirayakan banyak orang. Momen yang menurut mereka pas untuk mengungkapkan kasih sayang. Benarkah?</p>
<p>Di edisi kali ini gaulislam nggak bakalan bahas sejarah VD dari berbagai versi, karena pastinya banyak yang udah bahas, termasuk gaulislam sendiri pernah bahas di tahun-tahun sebelumnya. Kamu bisa buka arsipnya di website kita. Silakan cari sendiri deh. Hehehe.. bukan nggak mau nulisin lagi, tapi khawatir kamu bosan. Sebab, udah jelaslah bahwa VD bukan berasal dari ajaran Islam. Tapi kali ini, kita lebih fokus membahas dari sudut pandang gaya hidup remaja muslim yang seharusnya memang tak terkontaminasi gaya hidup asing, salah satunya nggak ikut-ikutan kejeblos ngerayain VD. Ok?</p>
<p><strong><em>Be My Valentine? </em></strong><strong></strong></p>
<p>Para cowok yang percaya bahwa VD adalah hari kasih sayang, biasanya ngedadak romantis. Mereka sibuk nyari pasangan atau menjalin hubungan erat dengan kekasihnya yang sudah lama dipacarinya. Di antara mereka ada yang serius nyari buat dijadiin kekasih sejati atau memperkuat ikatan yang udah ada, tapi nggak sedikit yang cuma nebar rayuan gombal dan nyari gebetan baru. Ya, niatnya pasti beragam.</p>
<p>Bro en Sis, di bulan ini sebagian dari kita kayaknya ngedadak jadi lebih sentimentil, lebih romantis (asal jangan roman manis hati iblis aja yee-atau romantis=rokok makan gratis), lebih peka, dan ujug-ujug jadi pujangga karbitan yang bisa melahirkan puisi cinta. Ibarat grafik pada sitemeter, bulan ini mencapai <em>peak</em> (puncak) tertinggi. Itu karena tingkat kunjungan ke website meningkat dan juga karena banyak netter lain nge-link ke web or blog kita. Lho apa hubungannya? Ada. Maksudnya, sekadar ingin menjelaskan bahwa di bulan ini suasana hati orang-orang sedang berada di puncak untuk mikirin momen hari kasih sayang. Jadi bawaannya romantis dan lembut serta ceria (hehehe.. analoginya maksain nggak sih?).</p>
<p>Oya, jangan-jangan banyak di antara teman kamu (atau kamu sendiri?) yang udah nyiapin <em>big deal</em> neh dengan kekasih hatimu? Tambah berbunga-bunga deh menjelang perayaan Valentine Day&#8217;s. Wah, bisa-bisa banyak cowok yang nawarin diri jadi &#8216;pangeran&#8217;. Itu sebabnya, sekarang udah berseliweran tuh rayuan gombal: &#8220;Be My Valentine?&#8221; <em>So</em> pasti tuh cowok minta jawaban dari kamu yang cewek untuk menganggukkan kepala sebagai bentuk persetujuan. Pernah ngalamin nggak? Kalo saya belum hehehe.. belum mampu ngerayu cewek kalo urusannya untuk maksiat (ciee.. boleh dong punya prinsip, swit swiw..)</p>
<p>Hati-hati lho kalo ada cowok kurang ajar berani nanya-nanya kayak gitu sama kamu yang cewek. Waspadalah, siapa tahu itu hanya jebakan alias perangkap. Kita nggak pernah tahu kan isi hati seseorang? Dalamnya samudera bisa diselami, dangkalnya hati manusia susah dipahami. Setuju?</p>
<p>Boys and gals, rasanya makhluk bernama cinta bisa dipoles sedemikian rupa bergantung latar belakang yang se-dang jatuh cinta. Itu sebabnya, cinta itu memang universal banget. Kita bisa menumpahkan energi cinta kita kepada orang yang kita sayangi dan kasihi. Tapi hati-hati lho, cinta juga butuh aturan. Nggak sembarangan main tubruk atau main pukul aja dalam mengekspresikannya (*main pukul, emangnya tinju?). Yup, cinta butuh aturan, bro!</p>
<p><strong>Jangan tergoda rayuan</strong></p>
<p>Saling tukar kado spesial, berbalas kirim SMS cinta, adu bikin puisi cinta, saling ngasih coklat, dan ngajak jalan-jalan saat VD sudah menjadi tradisi. Nggak heran kalo hampir semua orang yang percaya bahwa VD adalah hari kasih sayang dia akan ngelakuin hal-hal tersebut.</p>
<p>Bro en Sis, salah satu upaya agar tak terjerumus ikutan VD, buat kita yang muslim, adalah jangan mudah tergoda rayuan. Baik rayuan dari teman yang ngajak <em>dating </em>di tanggal 14, maupun rayuan gombal penjual pernak-pernik VD. Ada baiknya memperhatikan pepatah Woodrow Wyatt, &#8220;seorang pria jatuh cinta melalui matanya, seorang wanita jatuh cinta melalui telinganya&#8221;. Maka pantas saja banyak cowok yang hobinya lirak-lirik nyari tampang cewek yang enak dipandang mata. Karena dari situlah jalan untuk jatuh cinta, sekaligus pintu hawa nafsu. Nah, karena cewek mudah tergoda dari rayuan, dan tentu saja itu menggunakan telinganya untuk mendengar rayuan itu, maka banyak cewek yang lemah tak berdaya ketika diberi harapan, dijanjikan, dan dirayu ini dan itu. Hmm.. apalagi di momen 14 Februari ini, banyak peluang ke arah sana. Waspadalah!</p>
<p>Hehehe.. jadi inget tulisan saya dan Kang Iwan Januar di buku yang kami tulis 7 tahun lalu, <em>Jangan Nodai Cinta</em>. Ada beberapa keterangan yang perlu saya bagikan dalam tulisan ini. Berikut kutipannya:</p>
<p>Pada masa Rasulullah saw. ada seorang pria sedang berjalan-jalan ketika kemudian ia melihat seorang wanita yang menarik perhatiannya. Wanita itupun memandangnya. Syetan kemudian membisikkan godaan pada keduanya hingga keduanya terus bertatapan sampai-sampai pria itu tidak menyadari bahwa ada dinding di hadapannya. Akhirnya ia menabraknya dan hidungnya terluka. Ia berkata, &#8220;Demi Allah aku tidak akan menghapus darah sampai aku mendatangi Rasulullah saw. dan memberitahukan pada beliau tentang kejadian ini.&#8221; Ketika ia berjumpa dengan Rasulullah saw. dan menceritakan peristiwa tersebut Allah Swt. pun menurunkan ayat 30-31 dari surat an-Nuur: <em>&#8220;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya,&#8221;</em><strong>(QS an-Nuur [24]: 30-31)</strong></p>
<p>Sejak saat itu kaum muslimin diperintahkan untuk saling menjaga pandangan yang dapat memunculkan syahwat mereka.</p>
<p>Ketika Rasulullah saw. tengah membonceng al-Fadhl bin Abbas ra. pada saat pelaksanaan qurban dari Mudzalifah hingga ke Mina, mereka berpapasan dengan serombongan wanita yang mengendarai unta. Al-Fadhl melihat mereka dan terus menatapnya lekat-lekat. Rasulullah saw yang mengetahui hal itu lalu membalikkan kepalanya ke arah yang lain.</p>
<p>Sementara itu kepada Ali bin Abi Thalib ra. beliau juga bersabda: <em>&#8220;Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan dengan pandangan lagi, karena yang pertama menjadi bagianmu dan yang berikutnya bukan lagi untukmu (menjadi dosa)&#8221;</em><strong>(HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud)</strong></p>
<p>Nah, semoga sedikit kutipan ini bisa menyegarkan kembali ingatan kamu tentang ajaran Islam. Ajaran Islam ini menyelamatkan lho. Maka, pada momen VD ini, waspadalah terhadap segala rayuan dan godaan yang bisa mengajak kepada maksiat. Berbahaya, gan!</p>
<p><strong>Ikut pesta Valentine? No!</strong></p>
<p>Bro en Sis, meski pada tanggal 14 Februari seluruh dunia pesta cinta, tapi bukan berarti pesta itu layak juga kamu lakuin. Bener lho. Karena yang jelas, pesta ini nggak ada sangkut pautnya dengan ajaran Islam, bahkan ada juga kalangan Kristen yang nggak suka dengan pesta ini.</p>
<p>Mau tahu pendapat mereka? Menurut mereka, VD nggak ada hubungannya dengan keimanan kaum Kristen. Menurut Ken Sweiger yang menulis artikel <em>&#8220;Should Biblical Christians Observe It?&#8221;</em> <em>(www.korrnet.org)</em> kata &#8220;Valentine&#8221; berasal dari Latin yang berarti: &#8220;Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa&#8221;. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Jadi, sama sekali nggak ada hubungan dengan agama Kristen. Walaupun ada juga yang menyebutkan bahwa ketika agama Kristen masuk ke Romawi, khususnya untuk menarik perhatian para pemuda Romawi agar memeluk agama Kristen, tapi mereka masih suka dengan tradisi mereka, maka dibuatlah pesta Valentine agar tradisi kaum pagannya nggak ilang.</p>
<p>Boys and gals, Islam juga nggak mengajarkan masalah ini. Coba deh kamu buka al-Quran en kitab-kitab hadis, dan juga fikih. Nggak ada an-juran untuk ngerayain V Day. Sebaliknya, malah dilarang abis. Misalnya dalam firman Allah Swt.: <em>&#8220;Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).&#8221;</em> <strong>(QS al-An&#8217;am [6]: 116)</strong></p>
<p>Rasulullah saw. bersabda: <em>&#8220;Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istia-datnya), maka mereka termasuk golongan tersebut.&#8221; </em><strong>(HR Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)</strong></p>
<p>Jadi, kalo sampe ada remaja muslim dan muslimah yang ikutan latah ngasih kado berupa permen, coklat, atau ngirim e-mail bergambar Cupid en hati, kirim SMS, EMS, MMS, cuap-cuap di status en note facebook, bikin tweet di twitter dan lainnya yang bernuansa VD kepada seseorang yang kamu sukai, apalagi terus ngerayain pesta VD, aduh, mohon untuk segera minta ampunan sama Allah deh. Istighfar yang banyak yee&#8230; (maaf lho, bukan nyuruh-nyuruh, tapi sekadar ngingetin aja)</p>
<p>Bro, Islam adalah agama yang khas peribadatannya, termasuk dalam soal hari raya. Rasulullah saw. udah mengingatkan bahwa Allah Ta&#8217;ala telah memberikan kita hari raya yang terbaik dari yang pernah ada. Sabdanya:<em> &#8220;Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari raya yang lebih baik; hari fitri dan hari adha.&#8221;</em><strong>(HR Abu Dawud)</strong></p>
<p>Allah telah melarang kaum muslimin terlibat dalam hari raya orang-orang kafir. FirmanNya (yang artinya): <em>&#8220;Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kepalsuan (az-zûr)&#8230;&#8221; </em><strong>(QS al-Furqan [25]: 72)</strong></p>
<p>Terdapat kesalahan dalam sejumlah penerjemahan ayat tersebut di dalam terjemahan al-Quran bahasa Indonesia. Ayat tadi sering diterjemahkan &#8220;dan orang-orang yang tidak bersaksi palsu&#8221;. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan beragam seperti kebohongan, kebatilan dan perbuatan syirik. Ibnu Abbas ra. menjelaskan ayat itu sebagaimana tercantum di atas, yakni hari raya orang musyrik. Sayyidina Umar bin Khaththab memerintahkan kaum muslimin untuk menjauhkan diri dari hari raya orang-orang kafir. Sebab, pada saat itulah azab Allah Swt. akan hadir.</p>
<p><em>So</em>, walhasil nggak ada istimewanya VD bagi kaum muslimin yang tetap berpegang teguh pada ajaran Islam. Oya, sebenarnya bukan hanya tak istimewa, tapi VD adalah budaya jahiliyah bin kufur. Maka, jauhilah. Setuju kan? <strong>[dimuat di buletin remaja <a href="http://www.gaulislam.com/valentines-day-tak-istimewa" target="_blank">gaulislam</a>, edisi 120/tahun ke-3, 8 Februari 2010</strong><strong>]</strong></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/valentines-day-tak-istimewa" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/valentines-day-tak-istimewa/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tegang Nih Yee&#8230;</title>
		<link>http://osolihin.com/tegang-nih-yee</link>
		<comments>http://osolihin.com/tegang-nih-yee#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 14:19:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coretanku]]></category>

		<category><![CDATA[SerialOgi]]></category>

		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<category><![CDATA[serial ogi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Ogi duduk manis di barisan kursi yang tertata rapi sambil menunggu giliran dipanggil namanya oleh petugas loket pembayaran rekening listrik. Kebetulan Ogi sekolah siang hari. Jadi pagi-pagi udah bisa ngantri untuk bayar tagihan listrik. Ogi dapet nomor antrian 99. Sementara yang sedang dipanggil adalah nomor 50. Jadi masih cukup lama nungguin. Daripada bengong, Ogi baca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-390" title="171322p" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2010/02/171322p.jpg" alt="171322p" width="298" height="225" />Ogi duduk manis di barisan kursi yang tertata rapi sambil menunggu giliran dipanggil namanya oleh petugas loket pembayaran rekening listrik. Kebetulan Ogi sekolah siang hari. Jadi pagi-pagi udah bisa ngantri untuk bayar tagihan listrik. Ogi dapet nomor antrian 99. Sementara yang sedang dipanggil adalah nomor 50. Jadi masih cukup lama nungguin. Daripada bengong, Ogi baca buku kesayangannya. Sebuah komik. Tapi Ogi nggak mau tahu. Ia nggak pernah jaim. Pokoknya, kalo emang suka ya ia bakalan baca. Komik yang sedang Ogi baca adalah Kobo Chan. Hihihi.. udah segede gitu masih baca komik anak-anak.</p>
<p>&#8220;Geser tempat duduknya dong!&#8221; seorang bapak dengan asap mengepul dari dalam mulutnya. Jari tangannya menjepit sebatang rokok merek terkenal.</p>
<p>&#8220;Hhh.. nggak sopan. Bau naga lagi!&#8221; Ogi ngedumel dalam hati. Tapi ia tetap menggeser posisi duduknya untuk memberi ruang kosong kepada si bapak tersebut.</p>
<p>&#8220;Kamu kok nggak sekolah, malas sekolah ya? Jangan malas, negeri ini masih butuh banyak orang pinter&#8221; si bapak dengan kumis tebel melintang di atas bibirnya ini tiba-tiba nyeramahin Ogi.</p>
<p>&#8220;Maaf ya, Pak, tolong matikan dulu rokoknya. Ini kan tempat umum,&#8221; Ogi tiba-tiba bersuara dan mengagetkan si bapak tersebut. Tapi rupanya si bapak nggak terima. Matanya mendelik kayak mo keluar.</p>
<p>&#8220;Kamu tahu apa soal peraturan. Merokok hak saya. Mau apa kamu? Mau nantangin saya ya?&#8221; si bapak sewot sambil berdiri kacak pinggang. Ogi diam saja.</p>
<p>&#8220;Kamu merasa tersinggung ya saya ceramahin?&#8221; si bapak melotot. Kumisnya bergerak-gerak kayak ulet bulu saat dia ngomong. Matanya merah.</p>
<p>&#8220;Maaf Pak. Bukan saya marah atau saya nggak suka diceramahin sama bapak&#8230;&#8221; Ogi nggak ngelanjutin omongannya karena keburu dipotong sama si bapak berwajah garang bin sangar itu.</p>
<p>&#8220;Oohh.. jadi kamu bisa ngelawan juga ya. Kamu melawan orangtua ya?&#8221; cecar si bapak sambil menarik kerah baju Ogi. Orang-orang di sekitar yang awalnya cuek jadi panik dan segera melerai perselisihan itu.</p>
<p>&#8220;Sabar pak, sabar!&#8221; orang-orang nasihati si bapak.</p>
<p>&#8220;Jangan ikut campur!&#8221; gertak si bapak.</p>
<p>Nggak ada yang berani mendekat karena si bapak tadi kemudian mengacungkan sebilah pisau belati yang ia ambil dari balik jaketnya. Suasana makin tegang. Ogi sendiri tetap dalam kondisi leher hampir tercekik. Ogi meronta sebisanya. Tapi rasanya tuh cengkeraman tangan kekar si bapak makin kuat menekan. Sia-sia usaha Ogi.</p>
<p>&#8220;Kamu mau jadi jagoan? Kamu nggak tahu siapa saya?&#8221; si bapak merah matanya.</p>
<p>&#8220;Ma.. ma.. maaf pak, saya bukan mo nantangin bapak, tapi saya&#8230;&#8221; Ogi gugup.</p>
<p>&#8220;Kamu tahu ini apa? Mau kamu saya gores dan tusuk dengan benda tajam ini?&#8221; si bapak mengancam. Suasana makin tegang. Beberapa orang kemudian mendekat hendak mengambil benda tajam itu dari tangan si bapak.</p>
<p>&#8220;Awas kalian! Kalo mendekat, benda ini akan saya tusukkan ke leher anak kurang ajar ini. Cepat mundur!&#8221; si bapak mengancam orang-orang yang hendak merebut belati dari tangannya.</p>
<p>Satu per satu mereka mundur. Menjauh dari si bapak dan Ogi. Beruntung kejadian itu nggak berlangsung lama karena beberapa petugas satpam langsung mengamankan si bapak. Anehnya si bapak ini nggak melakukan perlawanan. Nggak ngancem kayak ke orang-orang tadi.</p>
<p>&#8220;Apa dia takut sama satpam?&#8221; Ogi membatin setelah tangan si bapak melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Ogi.</p>
<p>Baru saja Ogi mau ngucapin terima kasih ke satpam. Si bapak yang tadinya galak malah tersenyum dan melepaskan kumis. Rupanya itu kumis palsu. Kemudian ia bilang ke Ogi sambil nunjuk ke kamera tersembunyi.</p>
<p>&#8220;Kamu baru saja masuk tivi di acara kami. Acara <em>reality show</em> baru: Tegang Nih Yee&#8230;&#8221; Ogi celingukan dan malu udah masuk tivi dalam keadaan yang konyol karena dikerjain.</p>
<p>Ogi nggak jadi marah tapi juga nggak bisa nyembunyiin rasa kesalnya atas kejadian itu. Meski si bapak dan kru acara tivi itu udah minta maaf, Ogi tetap masih <em>shock</em> dan malu ditonton banyak orang. Tapi Ogi nggak berani protes. Kejadiannya berlangsung cepat dan kemudian tiba-tiba datang presenter acara <em>Tegang Nih Yee</em> menyalami Ogi dan ngasih hadiah berupa uang 1 juta rupiah sebagai imbalan karena udah dikerjain kru acara tersebut. Awalnya Ogi nggak mau nerima, tapi kemudian dipaksa harus diterima karena langsung di-<em>shoot</em> untuk tayangan di tivi nantinya. Ogi terpaksa nerima. Perasaan Ogi campur aduk. Seneng, malu, dan juga tegang karena ia pikir beneran. Pengunjung sekitar Ogi juga akhirnya ikut tertawa bersama setelah mengetahui bahwa adegan itu adalah rekayasa. Ah, ada-ada saja. Kru tivi pun bubar. Mungkin nyari korban lain. Ogi kembali duduk manis sambil nunggu giliran dipanggil. Sesekali nerima ajakan ngobrol orang-orang di sekitar tempat duduknya sambil nahan malu.</p>
<p>Saat dipanggil namanya, Ogi buru-buru menuju ke loket pembayaran.</p>
<p>&#8220;Tegang ya Dik?&#8221; si mbak penjaga loket pembayaran tersenyum genit.</p>
<p>Ogi cuma tersenyum kecut campur malu. Mukanya merah.</p>
<p>&#8220;Tapi kan dapet duit sejuta tuh, Gi. Lumayan!&#8221; Ogi kaget karena ada suara perempuan nyeletuk dari loket pembayaran sebelah dengan menyebut namanya.</p>
<p>&#8220;Rosa!&#8221; Ogi setengah nggak percaya.</p>
<p>&#8220;Aduh, kenapa dia ada di sini,&#8221; Ogi membatin sambil malu banget karena kejadian memalukan itu berhasil dilihat Rosa.</p>
<p>&#8220;Eh, jangan bilang ke siapa-siapa ya soal kejadian ini,&#8221; Ogi setengah berbisik sambil matanya menatap Rosa penuh harap.</p>
<p>&#8220;Nggak kok. Paling nanti satu sekolah pada tahu!&#8221; Rosa tersenyum seolah menertawakan kekonyolan Ogi.</p>
<p>&#8220;Aduh, ini bukan untuk dipublikasikan,&#8221; Ogi menatap Rosa sambil menerima kertas tanda terima pembayaran listrik.</p>
<p>&#8220;Udah nggak apa-apa, Gi, kan yang penting kamu dapet duit banyak. Duluan ya&#8230; Assalaamu&#8217;alaikum,&#8221; Rosa pamit sambil tersenyum. Ogi merasa harga dirinya tercabik-cabik. Malu, gitu lho.</p>
<p>&#8220;Oh No! Please deh. Kamu jangan bilang siapa-siapa,&#8221; Ogi teriak ke arah Rosa dan nggak nyadar kalo dirinya sedang ditonton banyak orang. Phew!</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Langit malam dipenuhi bintang-bintang. Berkelipan menghiasi malam yang berhawa hangat. Ogi menatapnya sambil duduk dekat jendela kamarnya. Pikiran Ogi menerawang jauh. Ada banyak pikiran di benaknya. Tapi sebenarnya hanya satu yang dipikirkan, rasa malu kalo temen-temennya tahu dia masuk tivi gara-gara dikerjain kru <em>reality show</em> dari sebuah stasiun televisi.</p>
<p>&#8220;Aduh, malu banget kalo temen-temen satu sekolah pada tahu soal kejadian tadi siang,&#8221; Ogi mengetuk-ngetukkan jari tangannya ke sandaran kursi.</p>
<p>&#8220;Bodo amat ah, kan di situ aku nggak minta. Aku cuma korban!&#8221; jerit Ogi dalam hati.</p>
<p>&#8220;Tapi Rosa kan tahu Gi, pasti dia akan bagi-bagi info itu ke teman-teman rohis,&#8221; suara dari dalam hatinya seolah ngomporin Ogi.</p>
<p>&#8220;Hmm.. bener juga ya? Terus apa yang harus aku lakukan?&#8221; Ogi ngomong sendiri. Matanya masih menatap bintang-bintang di langit malam. Tapi pandangannya kosong.</p>
<p>&#8220;Aku nggak mau tahu. Karena aku cuma korban. Tetap, aku cuma korban!&#8221; Ogi berusaha meyakin-yakin diri.</p>
<p>&#8220;Tapi kamu tampak konyol dengan adegan seperti itu. Apalagi nanti disiarin ke seluruh isi negeri. Kami jadi bahan tertawaan orang-orang. Kamu nggak malu?&#8221; kembali suara dalam hati seolah memojokkan Ogi.</p>
<p>&#8220;Kenapa aku harus malu? Memangnya aku berbuat kesalahan? Memangnya aku telah berbuat maksiat? Aku cuma korban. Sekali lagi, cuma korban!&#8221; Ogi tetap pada pendiriannya.</p>
<p>&#8220;Kamu mungkin menganggap sebagai korban, tapi orang lain yang melihatmu menganggap bahwa penampilan kamu tuh layak untuk dikorbankan,&#8221; suara hati itu seperti menertawakan Ogi.</p>
<p>&#8220;Hmm.. bener juga ya? Apa penampilanku ini culun? Apa karena aku kurang berwibawa sehingga orang berani ngerjain aku?&#8221; Ogi bertanya dalam hati. Menimbang-nimbang pernyataan suara hatinya.</p>
<p>&#8220;Bener Gi, apalagi nanti akan dilihat sama Leony. Wah, bisa malu banget tuh. Belum sama Si Paul yang jadi <em>secret admirer</em>-mu itu, pasti mereka akan tersenyum malu melihatmu,&#8221; suara dari dalam hati Ogi makin memanaskan hatinya.</p>
<p>&#8220;Waduh, bener juga ya? Aku akan tampak konyol karena nggak berwibawa dan akhirnya dikerjain orang,&#8221; Ogi bangkit dari duduknya. Jalan mondar-mandir sambil menggigit pensil.</p>
<p>&#8220;Hmm.. apa aku datengi aja stasiun televisi yang menayangkan <em>reality show</em> itu?&#8221; batinnya sambil menatap kosong <em>screen saver</em> di ponselnya.</p>
<p>&#8220;Percuma. Mereka nggak bakalan mau begitu saja menerima keberatanmu, Gi!&#8221; suara dari dalam hatinya kembali mementahkan rencananya.</p>
<p>&#8220;Biarin, yang penting kan aku udah ngasih pandanganku tentang acara tersebut. Aku memang cuma salah satu korban. Tapi, berapa banyak korban lainnya? Mungkin yang punya penyakit jantung bisa langsung pingsan atau malah meninggal,&#8221; kembali Ogi meyakinkan niatnya.</p>
<p>&#8220;Jangan sok pahlawan! Kamu pasti nanti dikerjain lagi di sana,&#8221; suara dalam hatinya terus saja mengganggu pikiran Ogi.</p>
<p>&#8220;Nggak peduli. Yang penting aku bisa mengekspresikan ketidaksukaanku atas acara tersebut. Titik!&#8221; Ogi bangkit dari duduknya lalu keluar kamar. Nggak menghiraukan lagi suara-suara dalam hatinya yang bernada mencegah rencananya.</p>
<p align="center">ooOoo</p>
<p>Taman kembang kertas. Siang hari yang mendung.</p>
<p>&#8220;Mil, kamu&#8230;&#8221; belum sempurna kalimat yang diucapkan Ogi, Jamil udah memotongnya sambil tertawa ngakak dan bilang ke Ogi, &#8220;Selamat ya, bisa masuk tivi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Deg! Pasti Rosa nih yang bocorin,&#8221; Ogi curiga.</p>
<p>&#8220;Nggak usah diambil ati, Gi. Lagian itu kan cuma main-main,&#8221; Jamil tetap tertawa. Kali ini sambil berurai air mata segala.</p>
<p>&#8220;Mil, kok kamu jadi sadis gitu sih. Teroris banget deh. Tertawa di atas penderitaan orang lain,&#8221; Ogi ketus.</p>
<p>&#8220;Wadoooh&#8230; jangan suudzon gitu dong, Gi. Aku kan nggak bermaksud ngeledekin kamu&#8230;&#8221; Jamil diam sebentar karena dipotong Ogi. Wajahnya berubah jadi serius.</p>
<p>&#8220;Lalu apa maumu?&#8221; Ogi masih penasaran menahan kesal.</p>
<p>&#8220;Maksudku&#8230; cuma ngerjain kamu aja&#8230;&#8221; tawa Jamil kembali meledak sambil lari ke mushola. Dikejar sama Ogi sambil dilempar sama batu-batu kecil yang ada di taman itu.</p>
<p>Sampai di mushola Ogi ketemu Helmi dan Koko yang keduanya sedang baca buku. Sementara Jamil terus ke tempat wudhu. Dia tetap tertawa ngekeh. Ogi nggak ngejar. Ia lebih memilih gabung bareng Helmi dan Koko.</p>
<p>&#8220;Eh, Mi. Asyik benar bacanya! Bagi-bagi dong,&#8221; Ogi nyalami Koko dan Helmi setelah ngucap salam.</p>
<p>&#8220;Baca sendiri aja,&#8221; Helmi buka suara.</p>
<p>&#8220;Oh, kamu juga rajin baca,&#8221; Ogi melirik Koko.</p>
<p>Koko emang termasuk hobi banget baca buku. Apalagi Helmi, liat aja kacamata minusnya, pasti gara-gara sering baca buku. Meski ada bocoran dari pihak intelijen rohis yang dipimpin Jamil, bahwa Helmi pake kacamata tuh bukan karena keseringan baca buku, tapi waktu belum gabung di rohis Helmi dulunya sering ngintip orang mandi! Watau! (apa hubungannya?)</p>
<p>&#8220;Gi&#8230;&#8221; Koko dan Helmi berbisik.</p>
<p>&#8220;Lho, kok bisik-bisik sih?&#8221; Ogi heran.</p>
<p>&#8220;Kamu dapet uang sejuta ya?&#8221; Koko senyum.</p>
<p>&#8220;Iya Gi, nyumbang dong buat mading rohis nih. Perlu aksesoris baru biar tambah ciamik,&#8221; Helmi menatap wajahnya.</p>
<p>Ogi udah keburu curiga. &#8220;Jangan-jangan nih anak udah pada tahu kasus dirinya dua hari lalu di loket pembayaran listrik,&#8221; batinnya menduga-duga.</p>
<p>&#8220;Kok kamu tahu sih?&#8221; tanya Ogi singkat sambil ngernyitkan dahinya.</p>
<p>&#8220;Ya, pasti tahu dong,&#8221; Helmi dan Koko barengan komen.</p>
<p>Ogi celingukan sambil nahan malu.</p>
<p>&#8220;Jadi&#8230; kamu semua tahu kalo aku dikerjain?&#8221; Ogi meyakinkan.</p>
<p>Koko dan Helmi bareng ngangguk lagi.</p>
<p>&#8220;Pasti ini gara-gara Rosa!&#8221; Ogi setengah teriak.</p>
<p>&#8220;Jangan sembarang nuduh, Gi!&#8221; Jamil tiba-tiba datang setelah shalat.</p>
<p>&#8220;Siapa lagi yang tahu soal ini kecuali Rosa yang lihat kejadian itu?&#8221; Ogi nampak nggak habis pikir.</p>
<p>&#8220;Kami semua lihat!&#8221; Jamil, Helmi dan Koko kompak.</p>
<p>&#8220;Hah! Kalian semua tahu?&#8221; tenggorokan Ogi terasa tercekik.</p>
<p>Sebelum Ogi ngomong lagi, Jamil bilang, &#8220;Karena acara itu semalam ditayangkan di televisi!&#8221;</p>
<p>Gubrak! Ogi lemes. Tulangnya terasa copot semua.</p>
<p>&#8220;Hehehe&#8230; makanya jangan sembarang nuduh, Gi!&#8221; Jamil nasihatin.</p>
<p>Ogi diam saja sambil ngebayangin dirinya dikerjain dan dilihat orang seluruh negeri. Malu.</p>
<p>&#8220;Ternyata ditertawakan orang itu menyakitkan!&#8221; ucap Ogi lirih.</p>
<p>&#8220;Deuuuh.. sampe segitunya, Gi!&#8221; Koko tertawa.</p>
<p>&#8220;Nih ada SMS dari Leony dan Si Paul via Rosa. Tadi pagi Rosa forward SMS tersebut ke aku,&#8221; Jamil menyodorkan ponselnya sambil tetap senyam-senyum.</p>
<p>Ogi buru-buru baca isi SMS di ponsel Jamil:</p>
<p>&#8220;Rosa, buat Ogi nih: Gi, slmt ya. Trnyt kmu bs dkrjain jg. Lucu liat kmu panik. My hero jg manusia ya. hehehe.. Salam, Si Paul&#8221; Ogi nahan napas. Keki banget. Terus membuka SMS dari Leony:</p>
<p>&#8220;Rosa, nnti FWD SMS-ku ke Jamil ya utk disampein ke Ogi: Aduuuh.. kecian bgt. Capek2 disklhin cm dikrjain orang. But, aq sk gy kamu di tivi smlm. Aktvs rhis jg bs keder ya. Qeqeqeqe&#8230; Aku, Leony&#8221;</p>
<p>Ogi menatap mata Jamil sambil tersenyum kecut. Nggak abis pikir. Nasib.. nasib&#8230;[]</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/tegang-nih-yee" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/tegang-nih-yee/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Facebook Addict</title>
		<link>http://osolihin.com/facebook-addict</link>
		<comments>http://osolihin.com/facebook-addict#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 11:24:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coretanku]]></category>

		<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<category><![CDATA[addict]]></category>

		<category><![CDATA[facebook]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[Maniak-online juga bisa membahayakan lho, meskipun ada manfaatnya. Ya, kalo seharian online, apa nggak bosen tuh? Facebook-an seharian apa nggak pegel? Kalo sampe kamu ngerasa kehilangan Facebook sehari aja, itu tandanya kamu sudah kecanduan. Uring-uringan kayak orang kebakaran kumis (bagi yang punya kumis tentunya), kalo yang nggak punya kumis, ya ibarat orang kebekaran bulu keteknya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-385" style="border:0;" title="facebook_addict_" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2010/02/facebook_addict_-300x213.jpg" alt="facebook_addict_" width="300" height="213" />Gila kerja, meskipun hal itu berdampak kepada bertambahnya pendapatan, tetap saja ada yang dikorbankan. Salah satunya, waktu berharga bersama keluarga. Gila belajar, meskipun ada manfaatnya, namun tetap saja ada yang diabaikan. Salah satunya, kita menjadi pribadi yang hanya fokus kepada belajar, belajar, dan belajar. Padahal, ada waktu yang juga kita alokasikan untuk istirahat, berhubungan dengan orang banyak dari berbagai kalangan. Gila belanja? Wah, itu berdampak tidak baik bagi diri kita, meskipun ada manfaat bagi para penjual produk karena produknya pasti laku kalo di dunia ini banyak orang yang gila belanja.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal kecanduan, ternyata nggak cuma narkoba yang bisa bikin orang kecanduan. Seks bisa bikin orang kecanduan juga lho. Kalo itu dilakukan suami-istri sih nggak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika dilakukan bukan mahrom. Kita prihatin dengan seks bebas yang kian marak dilakukan remaja dan orang dewasa yang lemah iman tapi kuat nafsunya. Obat-obatan tertentu pun bisa bikin orang ketagihan untuk terus mengkonsumsi. Ada ketagihan yang lain nggak? Hehehe.. ada. Ya, salah satunya ketagihan untuk online. Sebelum ada situs jejaring sosial bernama Facebook, orang sudah banyak menghabiskan waktu di depan komputer untuk chatting, untuk kumpul-kumpul di komunitas grup diskusi. Apalagi kalo udah berselancar nyari data. Bisa data yang bermanfaat, maupun data yang tidak bermanfaat. Situs porno pun jadi tempat mangkal netter yang ketagihan cerita dan gambar erotis. Belum lagi game online. Halah makin tekun deh tuh di depan komputer!</p>
<p>Maniak-online juga bisa membahayakan lho, meskipun ada manfaatnya. Ya, kalo seharian online, apa nggak bosen tuh? Facebook-an seharian apa nggak pegel? Kalo sampe kamu ngerasa kehilangan Facebook sehari aja, itu tandanya kamu sudah kecanduan. Uring-uringan kayak orang kebakaran kumis (bagi yang punya kumis tentunya), kalo yang nggak punya kumis, ya ibarat orang kebekaran bulu keteknya. Hihihi.. atau bisa juga ibarat yang punya pantat bisulan (apa hubungannya?). Ada, yakni nggak mau diem dan merasa paling menderita. Duduk nggak bisa, jalan pegel. Ngarang deh!</p>
<p>Bro en Sis, kalo sampe tiap hari kamu merasa kudu online terus di Facebook,  waspadalah! Sebab, bisa jadi kamu mulai terkena gejala Facebook Addict alias kecanduan Facebook. Bawaannya liat hape pengennya langsung browsing dan yang terbayang di pikirannya logonya Facebook plus teman-teman dunia maya tempat ngumpul bareng secara virtual. Pengen tahu “status” terbaru teman-teman yang ada dalam list kita. Penasaran dengan apa yang dikerjakan mereka saat ini. Geregetan pengen nyapa, pengen cari informasi, pengen komentar, pengen ngasih “jempol” tanda suka dengan statusnya. Bener lho. Saya, pada awal-awal kenal Facebook, meski nggak sampe ‘gila’, tapi sering nongkrong di situs jejaring sosial. Cuma kalo saya tertantangnya pengen mengeksplorasi apa aja fitur dan fungsinya. Diulik (bukan diulek lho!) semua fitur yang ada. Satu per satu saya cobain dan praktikkan. Setelah merasa puas, barulah jarang buka-buka lagi. Toh, cuma “gitu-gitu” aja. Saya lebih memilih memfungsikan semaksimal mungkin fitur yang cocok untuk berbagi manfaat dengan teman lainnya. Kalo cuma update status mah hal yang gampang dan biasa. Hehehe.. bukan sok ya, tapi bagi saya nggak terlalu istimewa. Kecuali kalo update status isinya sensasional kayak yang pernah dilakukan Evan Brimob, baru dah tuh status jadi banyak dicari dan tentunya banyak dicaci-maki. Phew!</p>
<p>Yuk, kita kalkulasikan waktu yang kita korbankan untuk ngenet dan mangkal di Facebook dengan waktu kita di tempat lain yang lebih bermanfaat. Misalnya, dalam sehari kita nongkrong di Facebook minimal 5 jam, itu udah parah lho. Berarti dalam sebulan waktu yang habis untuk ‘bermesraan’ dengan situs jejaring sosial ini adalah (150 jam, yakni 30 hari dikali 5 jam). Silakan hitung sendiri jika dikonversi dengan duit yang kudu dikeluarkan untuk beli pulsa telepon. Juga yang terpenting, soal memanfaatkan waktunya itu lho. Waktu 5 jam itu kalo dibagi-bagi buat istirahat, belajar, dan bekerja bisa sangat berharga.</p>
<p>Oya, waktu yang dipake 5 jam sehari untuk Facebook-an itu, baik waktu 5 jam itu secara berturut-turut atau memanfaatkan waktu di sela-sela aktivitas lain, tetap aja ada waktu yang secara khusus dialokasikan untuk main-main di Facebook. Saya kok nggak merasa yakin kalo remaja yang mangkal di Facebook itu memanfaatkannya dengan kebaikan. Masih ragu gitu lho. Soalnya, yang saya tahu lebih banyak dipake sekadar “hiburan” dan “main-main” saja. Mungkin ada juga yang memanfaatkan untuk dakwah misalnya, tapi jumlahnya tak sebanyak yang dipake untuk main-main. Sori ya, bukan nuduh tapi emang ada faktanya.</p>
<p>So, waktu 5 jam sehari main Facebook aja udah kebanyakan, apalagi yang lebih dari 5 jam sehari online terus, bisa-bisa jadi manusia online deh. Itu namanya udah sampe taraf kecanduan lho. Ati-ati jangan sampe kamu terkena Facebook Addict. Pikirin lagi sebelum berbuat, dan yang pasti, kamu tinggal lebih banyak di dunia nyata. Bukan di dunia maya dan bukan cuma di Facebook. Ok? Dunia tak seluas “update status, news feed, atau note” di Facebook. Manfaatkan waktumu dengan cara yang benar dan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan bekal di akhirat kelak. Akur ya? Harus! (ciee… saya kok jadi ngatur-ngatur gini?). Ngatur-ngatur? Kalo untuk kebaikan, kenapa nggak? Yes!</p>
<p>Salam,</p>
<p>O. Solihin</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/facebook-addict" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/facebook-addict/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Kenal Maka Tak Benci</title>
		<link>http://osolihin.com/tak-kenal-maka-tak-benci</link>
		<comments>http://osolihin.com/tak-kenal-maka-tak-benci#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 08:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coretanku]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[ideoligi]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>

		<category><![CDATA[liberalisme]]></category>

		<category><![CDATA[sekularisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Pepatah yang sering kita dengar adalah: &#8220;tak kenal maka tak sayang&#8221;. Ya, kalo kita nggak kenal sama seseorang, kita nggak akan sayang. Begitupun kalo kita nggak kenal sama Islam, maka kita nggak akan bisa sayang sama Islam. Apalagi sampe menjadi pembela dan pejuangnya. Iya nggak sih?
Bro en Sis, selain pepatah yang udah bertahun-tahun kita hapal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-380" title="democrazy1" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2010/02/democrazy1.jpg" alt="democrazy1" width="300" height="283" />Pepatah yang sering kita dengar adalah: &#8220;tak kenal maka tak sayang&#8221;. Ya, kalo kita nggak kenal sama seseorang, kita nggak akan sayang. Begitupun kalo kita nggak kenal sama Islam, maka kita nggak akan bisa sayang sama Islam. Apalagi sampe menjadi pembela dan pejuangnya. Iya nggak sih?</p>
<p>Bro en Sis, selain pepatah yang udah bertahun-tahun kita hapal itu, kita juga perlu membudidayakan (idih, emangnya lele dumbo?), maksudnya mensosialisasikan pepatah: &#8220;tak kenal maka tak benci&#8221;. Sebenarnya nggak ada yang aneh dengan istilah ini. Sebab hanya lawan kata saja dari pepatah pertama. Ya, ini juga kudu kita pahami. Bahwa kita nggak bakalan benci sama seseorang kalo kita nggak kenal siapa dirinya. Kita nggak bakalan benci sama ide-ide yang bertentangan dengan Islam, kalo kita nggak mengenalnya. Iya nggak sih?</p>
<p>Coba, kamu pasti nggak bakalan ngerasa benci setengah idup sama Si Babeh sang penjagal itu. Sebelumnya apa pernah kamu tahu siapa doi? Nggak juga kan? Baru deh setelah media massa ramai menjadikan doi sebagai berita kita jadi tahu kesadisan doi. Kita benci banget karena doi tega-teganya membunuhi anak-anak jalanan dan bahkan mensodominya. Bejat bener tuh orang! (hehe..ini salah satu rangkaian kalimat yang spontan keluar dari mulut kita atau nengalir deras dalam tulisan kita). Kenapa bisa benci? Karena udah mengenalnya, atau minimal mengetahui perilakunya yang bejat itu. Iya kan?</p>
<p>Bro en Sis, ini artinya bahwa kita seharusnya mampu mengetahui dan mengenali segala sesuatu. Supaya kalo kita tahu dan kenal, maka kita akan bisa memutuskan pendapat kita. Bisa menilai dan memberikan kesimpulan. Bisa sayang, bisa benci. Bisa bahagia, bisa kecewa. Mungkin saja bersenang-senang, bisa juga bermuram-durja. Semua itu, setelah kita mengetahui dan mengenalnya. Itu sebabnya, kita harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Siapa yang perlu didukung dan siapa pula yang wajib dilawan. Cara pandang kita yang akan menentukan sikap dan perilaku kita. Dan, sebagai muslim kita harus menjadikan Islam sebagai tolok ukur dalam berbuat dan berpendapat. Setuju kan? Kudu!</p>
<p><strong>Kapitalisme-Sekularisme? Benci banget!</strong></p>
<p>Secara singkat saya coba jelasin buat kamu nih. Biar kamu kenal dengan sistem kufur ini. Yup, kapitalisme adalah ideologi dan sistem yang lahir dari doktrin sekular yang diadopsi Eropa setelah runtuhnya kekuasaan gereja dalam arena politik. Kamu kayaknya pernah dengar deh semboyan pas revolusi Perancis: &#8220;Gantung kaisar terakhir, dengan usus pendeta terakhir&#8221;. Nah, itu sebagai protes dari rakyat Perancis waktu itu untuk mengakhiri kekuasaan gereja terhadap urusan pemerintahan. Jadi, nih Kapitalisme tuh &#8216;akidahnya&#8217; adalah sekularisme.</p>
<p>Soalnya dulu kekuasaan gereja ikut andil banget dalam menentukan kehidupan bernegara. Menurut Victor Hugo (dalam <em>History of Free Thought</em>, hlm. 147, dalam kutipan di buku <em>PeradabanBarat dalam Kacamata Islam</em>, www.irib.ir), sejarah gereja yang sebenarnya bukan saja dapat dibaca lewat halaman-halaman buku, tetapi juga di celah-celah baris catatan resmi. Gereja telah menyebabkan Parnili dihukum cambuk sehingga hampir saja menemui ajalnya. Hal itu terjadi lantaran ia menyatakan bahwa bintang tidak jatuh dari jalan yang telah ditentukan. Pihak gereja melemparkan Campland ke dalam penjara sebanyak 27 kali karena dia mengklaim adanya kehidupan selain di bumi. Gereja menyiksa Harvey karena membuktikan bahwa darah beredar lewat urat dan saluran darah di dalam badan.</p>
<p>Oya, Hugo menambahkan bahwa gereja juga memenjarakan Galileo karena dia menyatakan bahwa bumi mengitari matahari, sebuah pernyataan ilmiah yang kontradiktif dengan teori yang terdapat dalam perjanjian lama dan baru. Gereja memenjarakan Christopher Columbus yang menemukan benua tanpa memberitahu Saint Paul. Gereja memvonis setiap penemuan hukum alam, evolusi dunia, ataupun benua yang sebelumnya tidak diramalkan oleh kitab suci, sebagai sebuah pelanggaran moral. Gereja menyingkirkan Pascal dan Montey karena dianggap tidak bermoral, dan Muller dengan tuduhan pencabulan.</p>
<p>Karuan aja, sikap model gini bikin panas masyarakat, khususnya para ilmuwan dan cendekiawan saat itu. Mereka menganggap bahwa kalangan gereja terlalu ngatur dan ngekang akal mereka. Setelah banyak protes di sana-sini dari rakyat, akhirnya dicari jalan tengah, yakni urusan pemerintahan diserahkan kepada kalangan negarawan, dan urusan agama diberi wewenang kepada pihak gerejawan untuk mengaturnya. Begitu cerita singkatnya.</p>
<p>Sekarang, konsep sekularisme ini berkembang, apalagi setelah diadopsinya HAM alias Hak Asasi Manusia. Nah, salah satu konsep fundamental  yang lahir dari sekularisme adalah adanya keharusan negara atau kelompok atau individu untuk melindungi hak manusia dalam kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan individu.</p>
<p>Dari prinsip kebebasan kepemilikan muncul sistem ekonomi kapitalis. Demokrasi, atau konsep &#8216;kedaulatan rakyat&#8217;, adalah sistem politik yang juga lahir dari keyakinan sekular, tapi sebagai sistem politik demokrasi kurang menonjol dibandingkan sistem ekonomi kapitalis. Meskipun secara teoretis demokrasi memberikan kekuasaan legislasi kepada rakyat, tapi pada kenyataannya mereka yang memiliki kekayaan ekonomi adalah pihak yang secara riil memiliki kekuasaan.</p>
<p>Bro, sistem ekonomi kapitalis boleh dikata bisa mengendalikan dan mengambil peran dalam pemerintah, dan pembuatan kebijakan di Barat hampir sepenuhnya didorong oleh faktor-faktor ekonomi. Dari pemikiran ekonomi kapitalis lahir konsep <em>benefit</em> dan<em> interest</em>, dan keharusan untuk memaksimalkan benefit dan interest individu dan masyarakat. Konsep ini menjadi <em>driving</em> <em>force</em> sistem politik dan kebijakan luar negeri negara-negara Barat. Terus nih, para kapitalis, yaitu mereka yang menguasai kapital dan kekayaan, adalah penguasa yang sesungguhnya.</p>
<p>Contohnya aja nih, kalo ada pilkada alias pemilihan kepala daerah (termasuk pilpres tentunya), tuh yang berperan bukan cuma calon bupati atau gubernurnya aja. Tapi juga ada tim sukses. Nah, tim sukses inilah yang akan bekerja nyari dukungan, termasuk pencarian dana. Dananya dari siapa? Ya, dari para konglomerat yang punya modal. Ikhlas? Hmm.. dukungan tuh nggak ada yang gratis, man! Kalo nanti &#8216;jagonya&#8217; kepilih jadi bupati atawa gubernur (atau yang lebih keren lagi, presiden), maka proyek-proyek di daerah itu, atau dalam skala nasional kalo yang dukung adalah presiden, bakalan jatuh ke tangan penyandang dana tersebut. Di Amerika juga sama. Bahkan ada konglomerat asal Indonesia yang punya bank di sini, ikut patungan untuk pemilihan presiden Bill Clinton beberapa tahun silam.</p>
<p>Oya, perlu diketahui bahwa demokrasi bukanlah monopoli sekularisme. Komunisme juga mengklaim dirinya demokratis dan mengklaim bahwa pemerintahan berasal dari rakyat.  Oleh karena itulah, ideologi ini lebih tepat disebut Kapitalisme, dengan sekularisme sebagai landasannya alias akidahnya. (Diadapatasi dari M. Ramdhan Adi, <em>Globalisasi</em>; <em>Skenario Mutakhir Kapitalisme</em>, al-Azhar Press, 2005)</p>
<p><strong>Komunisme-Sosialisme? Halah, benci juga!</strong></p>
<p>Walah, jadi nostalgia deh kalo ngomongin sosialisme dan komunisme. Soalnya apa? Soalnya secara institusi nih ideologi udah &#8220;wasalam&#8221;. Udah nggak diemban lagi oleh negara besar sekelas Uni Soviet atau USSR (Union of Soviet Socialist Republics) yang udah bubar pada tahun 1991. Banyak yang seneng dengan bubarnya Uni Soviet, terutama negara-negara pengemban kapitalisme. Oya, grup rock sekelas Scorpion juga ikutan bikin satu lagu manis berjudul <em>Wind of Change</em> sebagai bentuk &#8217;syukuran&#8217; berakhirnya era sosialisme-komunisme.</p>
<p>Saat ini, sosialisme-komunisme praktis berakhir. Secara individu atau kelompok masih ada yang memperjuangkan. Negara kecil juga masih ada sih yang menerapkan, Vietnam salah satu contohnya. Nama resmi negaranya adalah <em>Socialist Republic of Vietnam</em>. Selain Vietnam, Korea Utara dan Cina adalah dua kekuatan negara Sosialisme yang masih dianggap sebagai ancaman bagi Amerika, meski Uni Soviet udah hancur.</p>
<p>Bro, pada dasarnya sosialisme tuh muncul sebagai tandingan kapitalisme, lho. Sosialisme sebagai bentuk perlawanan kepada kapitalisme yang udah bikin sengsara kaum buruh di Eropa pada abad 19.</p>
<p>Emang sih, pada satu sisi industrialisasi&#8211;dengan kapitalisasinya&#8211;telah mendorong dengan pesat laju produksi barang dan jasa. Akan tetapi industrialisasi juga bertanggung jawab terhadap kesenjangan dan krisis sosial yang merugikan kaum buruh. Upah kerja rendah, jam kerja panjang, eksploitasi tenaga anak dan wanita, serta pabrik yang kurang&#8211;bahkan tidak&#8211;memperhatikan keamanan kerja dan kesejahteraan kaum buruh.</p>
<p>Muncul kemudian Robert Owen<strong> </strong>(1771-1858) di Inggris, Saint Simon (1760-1825), dan Fourier (1772-1837) di Perancis berusaha memperbaiki kondisi buruk ini. Didorong rasa kemanusiaannya mereka memformulasikan teori-teori tentang sosialisme. Namun usaha mereka tidak dibarengi dengan tindakan nyata, maupun konsepsi nyata mengenai tujuan dan strategi dari perbaikan itu. Sehingga teori-teori mereka dianggap sebagai khayalan semata. Terutama oleh Marx dan Engels.  Muncul kemudian istilah Sosialisme Utopis.</p>
<p>Karl Marx (1818-1883) dari Jerman, tampil ke depan.  Ia juga mengecam keadaan ekonomi dan sosial yang bobrok akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalistik. Untuk mengubah kondisi bobrok masyarakat tersebut, Karl Mark berpendapat bahwa masyarakat harus diubah dengan perubahan radikal (revolusioner) bukan dengan perubahan tambal sulam. (baca Robert A. Isaak, <em>International Political Economy (terj. Ekonomi Politik Internasional; pentj</em>. Muhadi Sugiono; ed.I, <em> </em>Juli 1995, PT. Tiara Wacana, Yogyakarta)<em></em></p>
<p>Terus Marx menyusun teori-teori sosial bertumpu pada hukum-hukum ilmiah. Ia menamakan teori sosialnya dengan nama Sosialisme Ilmiah (Scientific Socialism), untuk membedakan pahamnya dengan Sosialisme Utopis. Dalam menyusun teori-teori sosialnya Marx banyak dipengaruhi oleh filsuf Jerman Hegel (1770-1831, terutama filsafat Hegel tentang dialektika. Kemudian ia dan Engels menerbitkan berbagai macam karangan, salah satunya yang paling masyhur adalah Manifesto Komunis dan Das Kapital.</p>
<p>Bro, sosialisme-komunisme nggak bertahan lama lho. Cuma 70-an tahun diterapkan sebagai ideologi negara oleh Uni Soviet. Karl Marx sebagai konseptornya. Sementara Stalin, Lenin dan pemimpin berikutnya sampe bubar di tahun 1991 adalah sebagai pelaksana aturan hukumnya.</p>
<p>Berbeda dengan kehidupan Kapitalisme yang individualistis, Sosialisme memiliki prinsip kesetaraan. Dalam Kapitalisme, kalo pun berkelompok atau berserikat, tapi kepentingan pribadi lebih menonjol. Sementara dalam sosialisme nggk boleh ada ambisi pribadi untuk memiliki apa pun. Semuanya harus sama. Karena kepentingan pribadi bisa ngerusak kesatuan. Konsepnya sih gitu deh. Tapi kenyataannya?</p>
<p>Ya, tapi kenyataannya nih, pemikiran itu cuma teori doang. Prakteknya nol besar. Buktinya, para petinggi partai komunis berebut harta dan kekuasaan. Bukan hanya itu, pejabatnya juga sering mengeksploitasi rakyat dan mengatasnamakan rakyat untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Itu sebabnya, jangan heran kalo muncul lelucon-lelucon satire (sindiran) oleh banyak rakyat Soviet. Kalo nggak percaya silakan baca buku <em>Mati Ketawa Cara Rusia</em>. Dijamin ngakak sendiri, tapi sekaligus bikin kita mikir. Ya, karena sosialisme-komunisme juga nggak ada bedanya ama kapitalisme kalo dilihat dari merusaknya.</p>
<p>Oya, kayaknya kamu perlu tahu deh bahwa &#8216;akidahnya&#8217; Sosialisme adalah materialisme. Prinsip materialisme menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka. Nggak ada Tuhan, nggak ada ruh, atau aspek-aspek kegaiban lainnya. Jadi, materilah asal-usul segala sesuatu. Materi juga merupakan dasar eksistensi segala macam pikiran. Dari ide materialisme inilah dibangun dua ide pokok dalam Sosialisme yang mendasari seluruh bangunan ideologi Sosialisme, yakni <em>Dialektika Materialisme</em> dan <em>Historis Materialisme</em>. (Ghanim Abduh, <em>Kritik Terhadap Sosialisme-Marxisme</em>, Pustaka Al-Izzah, 2003)</p>
<p>Nah, atas dasar ide materialisme ini, dengan sendirinya agama nggak punya tempat dalam Sosialisme-Komunisme. Sebab agama berpangkal pada pengakuan atas eksistensi Tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh ide materialisme. Bahkan agama dalam pandangan kaum sosialis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang harus dimusnahkan dari muka bumi.</p>
<p>Itu sebabnya nih, menurut Sosialisme hubungan negara-agama dapat diistilahkan sebagai hubungan yang negatif. Dalam arti Sosialisme telah menafikan alias secara mutlak eksistensi dan pengaruh agama dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Agama merupakan candu masyarakat yang harus dibuang dan dienyahkan. Begitu deh singkatnya. Oke? Kalo pengen lengkap sekarang udah banyak buku-buku yang bahas tentang sosialisme, baik pandangan pemikir Kapitalisme, Islam, maupun dari praktisi Sosialisme-Komunisme sendiri. Biar mantep, gitu lho.</p>
<p><strong>Islam adalah ideologi</strong></p>
<p>Bro en Sis, jelas banget kalo Islam tuh adalah ideologi. Itu sebabnya, jangan lagi kita menganggap bahwa Islam cuma ngurus soal akhirat aja. Islam lihai juga lho ngurus dunia. Tapi dengan catatan, yakni kalo Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Jadi, mulai sekarang biasakan untuk memahami Islam sebagai ideologi. Oke?</p>
<p>Sekadar menekankan aja nih, bahwa nggak ada keraguan kalo akidah Islam tuh menjelaskan bahwa sebelum ada kehidupan dunia ini ada Allah Pencipta manusia, alam semesta, dan kehidupan; bahwa Allah Pencipta manusia telah menurunkan aturan-aturanNya ke dunia ini untuk mengatur kehidupan manusia; dan bahwa manusia akan menuju alam akhirat dengan dimasukkan ke dalam surga atau neraka-begantung pada terikat-tidaknya dirinya dengan aturan-aturanNya. Itulah realitas akidah Islam yang harus diyakini oleh setiap Muslim.</p>
<p>Karena itu, agama Islam tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Seorang Muslim diperintahkan untuk menaati Allah Swt. di rumah, di pasar, di mal, di kendaraan, di kantor, di sekolah, di masjid, di ruang pertemuan, di mess, di hotel, dan di setiap tempat. Demikian juga ketika makan, minum, berpakaian, berakhlak, beribadah, dan berbagai muamalah. Semuanya kudu ngikutin aturan Allah Swt. dan RasulNya.</p>
<p>Boys and gals, Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: <em>&#8220;Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.&#8221; </em>(Dalam kitabnya, <em>al-Iqtishad fil I&#8217;tiqad</em> hlm. 199)</p>
<p>Nah, mulai sekarang, tanamkan pemahaman tentang Islam sebagai ideologi agar lebih mantep mengenal dan meyakini Islam. Supaya makin sayang sama Islam. Sebaliknya, kenali lebih dalam kapitalisme, sosialisme, komunisme, sekularisme, liberalisme, dan keyakinan serta semua ideologi rusak lainnya agar kita makin benci dan mencampakkan aturan-aturan kufur tersebut. Hanya Islam yang wajib tegak di muka bumi ini, bukan yang lain. Setuju kan? <strong>[dimuat di buletin remaja gaulislam, edisi 119/tahun ke-3]</strong></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/tak-kenal-maka-tak-benci" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/tak-kenal-maka-tak-benci/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menjemput Hidayah</title>
		<link>http://osolihin.com/menjemput-hidayah</link>
		<comments>http://osolihin.com/menjemput-hidayah#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 03:08:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coretanku]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[hidayah]]></category>

		<category><![CDATA[maksiat]]></category>

		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Bro en Sis, orang yang selalu berbuat maksiat belum tentu maksiat selamanya. Asalkan dia ingin berubah menjadi baik, ada niat dan usaha untuk mewujudkannya, insya Allah ada jalan untuk menjemput hidayah. Ada kisah menarik yang perlu menjadi inspirasi bagi kita.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-377" title="sujud" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2010/01/sujud-300x210.gif" alt="sujud" width="300" height="210" />Horee bertemu lagi dengan kamu semua. Alhamdulillah kita tetap bersama meski hanya dijembatani buletin kesayangan kamu ini. Kalo pekan kemarin gaulislam bahas tentang tobat, maka sekarang semacam lanjutannya: menjemput hidayah. Ya, mudah-mudahan bisa melengkapi pemahaman kamu sebelumnya dan kamu semua jadi tambah wawasan tentang Islam. Sip deh!</p>
<p>Bro en Sis, ada satu pepatah menarik yang pernah saya dapatkan ketika mengisi salah satu acara bedah buku saya. Pengisi acara yang lain menyampaikan sebuah kata-kata mutiara: &#8220;Orang yang terbiasa berada dalam kegelapan, cahaya terang sangat menyilaukan&#8221;. Saya catat dalam ingatan saya. Saya tulis agar tak lupa. Pesan ini sangat bermakna bagi saya. Betapa dulu yang pernah saya rasakan, memang berat meninggalkan kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan. Anggapan yang sudah bercokol di benak harus dipaksa berubah bukanlah hal yang mudah. Saya berempati dengan teman-teman yang masih belum mau meninggalkan kebiasaan yang buruk untuk berganti dengan kebiasaan yang baik. Memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa diubah.</p>
<p>Oya, sebenarnya &#8220;kebiasaan&#8221; itu netral lho. Karakter &#8220;kebiasaan&#8221; itu sulit dimulai, dan sulit juga dihentikan. Beruntung bagi yang sudah melakukan &#8220;kebiasaan&#8221; baik, akan sulit baginya dipaksa untuk melakukan &#8220;kebiasaan&#8221; buruk. Tapi perlu kesadaran penuh bagi yang sering melakukan kebiasaan buruk, untuk dipaksa melakukan kebiasaan baik. Ia perlu banyak merenung dan menimbang-nimbang pikir dan rasa.</p>
<p><strong>Ada niat berubah, ada hidayahhi</strong></p>
<p>Bro en Sis, orang yang selalu berbuat maksiat belum tentu maksiat selamanya. Asalkan dia ingin berubah menjadi baik, ada niat dan usaha untuk mewujudkannya, insya Allah ada jalan untuk menjemput hidayah. Ada kisah menarik yang perlu menjadi inspirasi bagi kita. Kamu tahu Syaikh Fudail bin Iyadh? Bagi yang pernah tahu, beliau adalah salah satu guru Imam asy-Syafii. Tahukah masa lalunya?</p>
<p>Nah, inilah kisahnya: Fudhail bin Iyadh, semasa masih jahat, bermaksud mengganggu seorang wanita jelita. Ketika sedang memanjat tembok rumah wanita itu, tiba-tiba terdengar olehnya dari jendela rumah alunan merdu bacaan al-Quran yang artinya: <em>&#8220;Belumlah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka).&#8221;</em> <strong>(QS al-Hadiid [57]: 16)</strong></p>
<p>Ayat tersebut menyentak sanubari Fudhail bin Iyadh, membuatnya terdiam di atas tembok. Tiba-tiba Bin Iyadh merasa persendiannya lumpuh. Lalu dengan tubuh gemetar dia mengiba, &#8220;Oh Tuhan, telah tiba waktuku. Telah tiba waktuku.&#8221; Dia pun turun dari tembok dan berjalan pulang dengan hati bertaubat setulus-tulusnya.</p>
<p>Karena kemalaman di jalan, Bin Iyadh istirahat di sebuah rumah kosong yang ditemuinya. Namun ternyata, di dalam rumah tua itu ada serombongan musafir yang tampaknya juga sedang beristirahat.</p>
<p>&#8220;Ayo kita berangkat sekarang saja,&#8221; dari luar bilik Fudhail mendengar seorang dari mereka berkata demikian.</p>
<p>Yang lain menjawab, &#8220;Jangan, lebih baik tunggu sampai pagi. Sebab, pada malam-malam seperti inilah biasanya si Fudhail menjalankan aksinya.&#8221;</p>
<p>Mendengar percakapan mereka itu, Fudhail menampakkan dirinya sambil berkata, &#8220;Akulah Fudhail. Tapi jangan takut, sekarang aku telah bertaubat dan tidak akan menyamun lagi.&#8221; <strong>(kisahnya dikutip dari Islamia, edisi April-Juni 2005)</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, banyak teladan di masa lalu yang bertaubat dari maksiat yang dilakukannya. Tak sedikit sahabat Nabi Muhammad saw. yang awalnya adalah musuhnya dan musuh Islam. Tahu kan Umar bin Khaththab ra? Semasa jahiliyahnya, yakni ketika belum jadi muslim, Umar bin Khaththab adalah halangan bagi dakwah Islam. Selain beliau, yang jadi halangan dakwah saat itu adalah Umar bin Hisyam alias Abu Jahal. Sampai-sampai Rasulullah saw. berdoa memohon kepada Allah agar Islam bisa kokoh dengan salah satu dari dua orang bernama Umar ini. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzii dari Abdullah bin &#8216;Umar ra dan ath-Thabranii dari Abdullah bin Mas&#8217;uud dan Anas bin Malik <em>Radhyillaahu &#8216;Anhuma</em>, bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda dalam doanya, &#8220;<em>Allahummaa,</em> kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai, dengan Umar bin al-Khaththab atau dengan Abu Jahal (Umar bin Hisyam).&#8221;</p>
<p>Mau tahu kisahnya? Begini riwayat singkatnya: Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Anas bin Malik ra. dan Abdullah bin Abbaas ra., bahwasanya di tengah perjalanan mencari mereka, Umar bertemu dengan Nu&#8217;aim bin Abdullah an-Nahlam al-Adwii, atau seorang laki-laki dari Bani Zuhrah, atau seorang laki-laki dari Bani Makhzum, yang bertanya kepadanya, &#8220;Hendak ke mana engkau wahai Umar?&#8221; Lantas di jawab oleh Umar dengan geramnya, &#8220;Aku mencari Muhammad yang telah memecah belah persatuan kita, mengacau ketentraman Quraisy, dan mencela agama nenek-moyang. Aku ingin membunuhnya!&#8221;</p>
<p>Orang tadi lalu bekata kepada Umar, &#8220;Demi Allah, kau sangat sombong wahai Umar. Apakah kiranya Bani Abdi-Manaf akan membiarkan kau berjalan di atas bumi setelah kau berhasil membunuh Muhammad? Apa yang bisa menjamin keamanan dirimu dari pembalasan Bani Hasyim dan Bani Zuhrah jika engkau membunuh Muhammad?&#8221;</p>
<p>Umar kemudian menjawab, &#8220;Menurut pengamatanku, rupanya engkau telah keluar dan meninggalkan agama yang telah engkau peluk selama ini.&#8221;</p>
<p>Orang itu lantas menjawab, &#8220;Bagaimana jika kutunjukkan sesuatu yang membuatmu lebih tercengang wahai Umar? Sesungguhnya saudarimu dan iparmu juga telah keluar dari agama serta meninggalkan agama yang selama ini engkau peluk. Adikmu Fathimah dan suaminya telah menjadi pengikut Muhammad. Lebih adil engkau habisi mereka terlebih dahulu!&#8221;</p>
<p>Mendengar kabar itu, maka dengan terburu-buru Umar berlalu dan begegas menuju rumah Fathimah binti al-Khaththab, adik perempuannya. Di rumah Fathimah saat itu ada suaminya yaitu Sa&#8217;id bin Zaid bin Nufail dan kawan mereka yaitu Khabbaab bin al-Arat ra. Mereka sedang mendengarkan ayat al-Quran yang dibacakan oleh Khabbab yaitu dari surah Thaahaa (20). Ketika Khabbaab mendengar suara kedatangan Umar, dia segera menyingkir ke bagian belakang ruangan, sedangkan Fathimah menyembunyikan <em>shahifah </em>(lembaran) berisi ayat al-Quran. Namun tatkala mendekati rumah adiknya tadi, Umar sempat mendengar bacaan Khabbab di hadapan adik dan iparnya.</p>
<p>&#8220;Apa suara bisik-bisik yang sempat kudengar dari kalian tadi?&#8221; tanya Umar ketika sudah masuk rumah. &#8220;Hanya sekadar obrolan di antara kami, &#8221; jawab Fathimah dan suaminya. &#8220;Kupikir kalian berdua sudah keluar dari agama, &#8220;kata Umar lagi. Kemudian Sa&#8217;id bin Zaid bin Nufail yang merupakan adik ipar Umar itu berkata, &#8220;Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran ada dalam agama selain agamamu?&#8221;</p>
<p>Seketika Umar melompat ke arah adik iparnya dan memukul mukanya hingga jatuh tak berkutik lantas menginjak-injaknya keras-keras. Fathimah kemudian mendekat untuk menolong suaminya dan mengangkat badannya. Namun Umar memukul Fathimah hingga bibirnya luka dan bercucuran darah.</p>
<p>Demi melihat keadaan adiknya, Umar akhirnya sadar dan timbul rasa iba dalam hatinya. Sementara Fathimah dengan berang berkata kepadanya, &#8220;Wahai Umar, benar kami telah memeluk Islam, beriman kepada Allah dan RasulNya. Sekarang kau boleh berbuat apa saja terhadap kami.&#8221; Kemudian Fathimah berkata lagi, &#8220;Wahai Umar, jika memang kebenaran itu ada dalam selain agamamu, maka bersaksilah bahwa tiada <em>Ilaah </em>selain Allah dan bersaksilah bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.&#8221;</p>
<p>Umar mulai merasa putus asa, dan dia melihat darah yang meleleh dari bibir adiknya. Maka Umar merasa menyesal dan malu atas perbuatannya. Lalu ia berkata, &#8220;Serahkan lembar-lembar yang kalian baca itu kepadaku. Aku ingin membaca apa yang telah diajarkan Muhammad!&#8221; Tetapi Fathimah menjawab, &#8220;Engkau adalah orang yang najis. <em>Shahifah </em>ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Bangun dan mandilah jika mau!&#8221; Maka Umar segera mandi dan setelah itu memegang<em> shahifah</em> tadi dan mulai membaca isinya yaitu surat Thaahaa (20) dari awal dengan membaca, &#8220;<strong><em>Bismillaahir rahmaanir rahiim.</em></strong>&#8221; Lalu Umar berkata, &#8220;Nama-nama yang bagus dan suci.&#8221; Kemudian ia melanjutkan pembacaan dari ayat satu hingga berhenti pada firman Allah di ayat 14: <strong><em>Innanii anallaahu laa ilaaha illaa ana fa&#8217; budni wa aqimish shalaata li dzikrii</em></strong>. Diterjemahkan, &#8220;Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu.&#8221;</p>
<p>Setelah membaca ayat tersebut, sanubarinya tersentuh dan Umar serta merta sadar bahwa yang telah dibacanya belum pernah terdengar olehnya. Maka tiba-tiba secara drastis suara dan sikapnya berubah. Umar lantas berkata, &#8220;Alangkah indah dan mulianya kata-kata ini! Tunjukkan padaku di mana Muhammad berada saat ini!&#8221;</p>
<p>Mendengar perkataan Umar barusan, maka Khabbaab bin al-Arat muncul dari belakang rumah dan berkata, &#8220;Terimalah kabar gembira wahai Umar. Karena aku benar-benar berharap agar doa Rasulullah saw. pada malam Kamis itu jatuh kepada dirimu. Segeralah engkau menghadap beliau, wahai Umar!&#8221;</p>
<p>Singkat cerita, Umar bin Khaththab masuk Islam langsung di hadapan Rasulullah saw. Ketika itu, sesampainya Umar di kamar dan bertemu dengan Rasulullah saw., ia disambut oleh beliau dengan cara memegang baju dan pegangan pedangnya, lalu menariknya dengan tarikan yang keras seraya bersabda, &#8220;Apakah engkau tidak mau menghentikan tindakanmu wahai Umar, hingga Allah menurunkan kehinaan dan bencana seperti yang menimpa al-Walid bin al-Mughirah? Ya Allah. Inilah Umar bin al-Khaththab. Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin al-Khaththab.&#8221;</p>
<p>Umar kemudian menjawab, &#8220;Ya Rasulullah, aku datang untuk menyatakan iman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta apa-apa yang datang dari Allah.&#8221; Umar berkata, &#8220;Aku bersaksi bahwa tiada Ilaah selain Allah dan sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah.&#8221;</p>
<p>Umar bin al-Khaththab ra adalah seseorang yang memiliki watak tempramental dan sulit dihalang-halangi, sehingga dengan dirinya masuk ke dalam Islam sangat mengguncangkan orang-orang musyrik dan menorehkan kehinaan bagi mereka. Sebaliknya, hal ini mendatangkan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan bagi orang-orang muslim.</p>
<p>Subhanallah. Tak ada yang mustahil. Siapa pun bisa menjadi baik. Ahli maksiat sekalipun bisa berubah jadi baik, bahkan jadi ulama. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa juga menyaksikan satu per satu kawan kita menjadi baik. Teman sepermainan kita yang lama tak jumpa, ketika bertemu sudah berubah penampilannya. Berubah pula akhlaknya. Dia menemukan kebenaran Islam di tempat lain. Bukan mustahil toh?</p>
<p>Kita yang kini termasuk para pengemban dakwah, bisa jadi bukanlah orang yang baik-baik di masa lalu. Bisa jadi malah penghalang dakwah. Seorang kawan pernah bercerita, bahwa ketika dirinya sekolah di SMA, kepala sekolahnya sangat tidak setuju dengan siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab. Bahkan sempat bersitegang mempertahankan pendapatnya bahwa dirinya memimpin sekolah umum, bukan pesantren. Namun ketika dirinya dipindahkan tugas ke sekolah lain, ternyata ada kabar baik, bahwa kini dirinya sudah mengenakan kerudung. Sudah berbusana muslimah, dan malah baik kepada siswi yang mengenakan kerudung dan jilbab.</p>
<p>Ya, ini menunjukkan bahwa tak selamanya manusia itu berada dalam maksiat. Tak selamanya terus berbuat dosa. Pasti ada saatnya untuk berbuat baik. Asalkan ada kemauan untuk mengubah, insya Allah akan mendapat hidayah dari Allah Swt. Memang, kalo ngikutin hawa nafsu, rasanya betapa berat meninggalkan maksiat. Namun demikian, bukan berarti harus menyerah, apalagi &#8220;kepalang basah&#8221;. Tidak. Kesadaran untuk berubah jauh lebih baik dan bisa mengalahkan hawa nafsu. Insya Allah. Percayalah!<strong>[dimuat di <a href="http://www.gaulislam.com/menjemput-hidayah" target="_blank">buletin remaja gaulislam</a>, edisi 117, 18 Januari 2010]</strong></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/menjemput-hidayah" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/menjemput-hidayah/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tobat Sebelum Ajal Mendekat</title>
		<link>http://osolihin.com/tobat-sebelum-ajal-mendekat</link>
		<comments>http://osolihin.com/tobat-sebelum-ajal-mendekat#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 23:23:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coretanku]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[ajal]]></category>

		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<category><![CDATA[kematian]]></category>

		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<category><![CDATA[usia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa muttaqin adalah orang-orang yang berhati-hati dan menjauhi syirik serta taat kepada Allah. Sedangkan Imam Hasan Bashri mengatakan bahwa bertakwa berarti takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah Swt. dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah Swt.. Berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-373" title="20081121174706" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2010/01/20081121174706-300x224.jpg" alt="20081121174706" width="300" height="224" />Kematian nggak pernah diketahui datangnya. Setiap orang pasti mati. Tapi semua orang tak pernah tahu kapan kematian menjemputnya. Itu sebabnya, kita kudu siap-siap sebelum datang hari di mana kita harus sudah pergi meninggalkan segala nikmat dunia. Kalo kita perhatiin, ada yang sebelum mati sempat ninggalin pesan tertentu kepada keluarganya. Tapi banyak juga yang pergi ninggalin dunia tanpa pesan. Banyak orang juga yang insya Allah saat ajal mendekat ia masih bisa beramal shalih. Khusnul khatimah alias baik di akhir hidupnya. Namun nggak sedikit yang saat ajal mendekatinya dan benar-benar menjemputnya ia sedang berbuat maksiat. Su&#8217;ul khatimah alias buruk di akhir hayatnya <em>Naudzubillahi min dzalik.</em></p>
<p>Bro en Sis, ajal setiap orang udah ditetapkan waktunya. Udah dijatah sama Allah Swt. batas waktu &#8216;beredar&#8217; setiap orang di dunia. Jangan lupa juga bahwa hidup kita dunia ini akan diuji, siapa yang terbaik amalnya. Firman Allah Swt. (yang artinya): <em>&#8220;Maha Suci Allah Yang di tanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.&#8221;</em> <strong>(QS al-Mulk [67]: 1-2)</strong><em></em></p>
<p>Yup, ada ganjaran berupa pahala yang akan diberikan oleh Allah Swt untuk setiap ibadah yang kita lakukan. Begitu pula, Allah Swt. akan memberikan siksa bagi manusia manapun yang telah berbuat dosa dalam kehidupannya (atau bahkan selama hidupnya). Tentu itu adil dong ya. Mereka yang beriman dapat pahala, dan siapa saja yang berbuat maksiat diberikan siksa karena dosa-dosanya. <em>So</em>, emang nggak akan lepas dari pengawasan Allah Ta&#8217;ala. Waspadalah!</p>
<p>Terus, gimana kalo kita kadang berbuat maksiat? Ya, Allah Swt. udah ngasih jalan, yakni dengan cara bertobat alias minta ampunan. Setelah bertobat tentu harus ninggalin maksiat yang telah atau biasa dilakukannya sebagai wujud tobat yang sebenarnya-benarnya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).&#8221;</em> <strong>[QS at-Tahriim [66]: 8]</strong></p>
<p><strong>Kita semua pernah berbuat dosa</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, siapa pun orangnya, pasti ia pernah melakukan dosa, kecuali Rasulullah saw. tentunya, karena memang beliau <em>ma&#8217;shum</em> (terbebas dari dosa dan kesalahan) dalam penyampaian risalah Allah ini. Itu sebabnya, saya waktu ngaji dulu, ustadz saya sering mengatakan bahwa, &#8220;Orang yang bertakwa bukanlah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Tapi orang yang bertakwa adalah ketika berbuat dosa, kemudian menyadari dan segera memohon ampunan kepada Allah Swt.&#8221;</p>
<p>Rupanya ungkapan ustadz saya itu melumerkan kengototan saya waktu itu, yang menilai bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang selalu benar dalam hidupnya. Pernyataan ustadz saya ini juga semakin menumbuhkan keyakinan dalam diri saya bahwa meski kita tak boleh salah dalam hidup ini, bukan berarti kita akan lolos dari kesalahan. Karena yang terpenting adalah menyadari kesalahan tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi sambil mohon ampunan kepada Allah Swt.</p>
<p>Imam Ibnu Katsir menukil sabda Rasulullah saw.: <em>&#8220;Seorang hamba tidak dapat mencapai kedudukan muttaqin kecuali jika dia telah meninggalkan perkara-perkara mubah lantaran khawatir terjerumus ke dalam dosa&#8221;</em> <strong>(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)</strong></p>
<p>Boys and gals, menurut hadis ini, yang mubah saja bila perlu dihindari karena khawatir terjerumus dalam dosa, apalagi yang sudah jelas haram. Iya nggak sih? Oya, dalam keterangan lain, orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menjaga dan membentengi diri. Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwa <em>muttaqin </em>adalah orang-orang yang berhati-hati dan menjauhi syirik serta taat kepada Allah. Sedangkan Imam Hasan Bashri mengatakan bahwa bertakwa berarti takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah Swt. dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah Swt. Berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sedangkan Ibnu Mu&#8217;tazz melukiskan sikap yang mesti ditempuh seorang muslim agar mencapai derajat <em>muttaqin</em> dengan kata-kata sebagai berikut: <em>&#8220;Tinggalkan semua dosa kecil maupun besar. Itulah takwa. Dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di tanah yang penuh duri, selalu waspada. Jangan meremehkan dosa kecil. Ingatlah, gunung yang besar pun tersusun dari batu-batu kecil&#8221;.</em></p>
<p>Nah, kebayang banget kan kalo semasa hidupnya ada orang yang selalu maksiat. Duh, gimana tuh dosanya. Termasuk dalam hal ini adalah orang-orang yang ketika hidupnya selalu melecehkan kaum muslimin, menghina ajaran Islam, dan malah lebih memilih bersahabat dengan musuh-musuh Islam. Ih, dosanya pasti berlipat-lipat. Apalagi pas ajalnya datang nggak bertobat.<em> Naudzubillahi min dzalik.</em></p>
<p>Memang sih urusan dosa Allah Swt. yang akan menghisabnya. Tapi kan kita juga diajarkan oleh Rasulullah saw. untuk menilai seseorang dalam berperilaku. Bahwa yang kita nilai itu adalah yang tampak dan sudah jelas dilakukan seseorang (<em>&#8220;nahnu nahkumu bidzdzawaahir&#8221;</em>, begitu kata Nabi saw.). Misalnya, ada orang yang ngomong bahwa demokrasi itu sistem yang lebih baik dari Islam (sambil dengan bangga menentang upaya perjuangan orang-orang yang ingin menegakkan Khilafah Islamiyyah), dia juga ngoceh bahwa pluralisme, sekularisme, dan liberalisme  lebih hebat ketimbang Islam, selain itu dia terang-terangan melecehkan kaum muslimin. Nah, untuk orang yang kayak gini tentu saja kita bisa menilai nih orang udah bermaksiat kepada Allah Swt. Tentu, berdosa dong ya.</p>
<p><strong>Minta ampunan Allah Swt. yuk!</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, ampunan Allah jauh lebih besar dari murkaNya. Lagi pula, memohon ampunan Allah (bertobat) sekaligus mencerminkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah. Karena orang yang bertakwa salah satu cirinya adalah segera mohon ampunan kepada Allah jika dia sudah menyadari kesalahannya. Jadi, nggak usah malu untuk bertobat en nggak usah merasa ribet. Jalani aja sambil terus belajar supaya nggak kecebur ke dalam jurang yang sama. Karena dengan belajar kita jadi tahu dan yakin bisa menjalani hidup ini dengan tenang. Cobalah.</p>
<p>Rasulullah saw. memberikan pujian buat kita-kita yang takwa dan taat pada ajaran Islam. Apalagi sebelumnya kita ahli maksiat. Betul nggak? Indah nian ungkapan Rasulullah saw. empat belas abad yang lampau: <em>&#8220;&#8230;ada kaum yang akan datang sesudah kalian (para sahabat r.a.). Mereka percaya kepada (sekadar) kitab yang dibendel, lalu percaya dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. Mereka lebih utama daripada kalian. Mereka lebih besar pahalanya daripada kalian.&#8221; </em><strong>(HR Ibnu Mardawih </strong>yang dikutip<strong> </strong>dalam penjelasan di <strong>Tafsir Ibnu Katsir</strong>)</p>
<p>Bro en Sis, hidup ini penuh dinamika. Penuh warna, penuh liku, penuh lubang dan mendaki (Iwan Fals banget neh!). Kata orang bijak, hidup adalah untuk mati. Bisa dipahami, karena akhir dari kehidupan adalah kematian. Nggak salah-salah amat kok. Tapi, kita juga wajib ngeh, untuk apa kita hidup. Untuk apa kita ada dunia ini. Dan, akan ke mana setelah bersuka-cita, termasuk berduka-derita di dunia ini?</p>
<p>Kehidupan ini pasti akan berakhir. Wak Haji Rhoma Irama juga tereak: &#8220;Pesta pasti berakhir&#8221; (kalo disebut nama ini, kamu jangan langsung menggoyangkan jempol tangan dan kaki ya, hehehe&#8230;). Hidup di dunia ibarat menempuh sebuah perjalanan panjang dan melelahkan. Banyak sekali cerita terukir di sini. Cerita suka, duka, derita, bahagia, sedih, gembira, kecewa, optimisme, putus asa, peduli, kasih-sayang, cinta, dan seabrek pernak-pernik dan kerlap-kerlip kehidupan dunia yang melengkapinya.</p>
<p>Bro, perjalanan panjang di dunia ini pasti akan berakhir. Ada terminal akhir yang merupakan tempat kita berlabuh. Allah Swt. udah menyediakan dua tempat; surga dan neraka. Surga untuk para pengumpul pahala, sementara neraka adalah kelas &#8216;eksklusif&#8217; para pendosa.</p>
<p>Nah, mumpung kita masih bisa bernapas, mumpung kita masih bisa tertawa, selagi kita masih punya kesempatan banyak, di saat kita masih muda usia, sebelum air mata penyesalan mengalir deras dari kedua mata kita, ada waktu untuk kita perbaiki diri. Jangan putus asa juga buat para pendosa. Yakinlah, selama hayat masih di kandung badan, kalian punya kesempatan yang sama untuk menuai pahala. Bertobat dari berbuat maksiat, itu keputusan tepat. Setelah itu mari belajar agama. Pahami, cermati, dan amalkan dalam kehidupan.</p>
<p>Sobat muda muslim, &#8216;qod qola&#8217; Alvin Toffler, &#8220;Perubahan tak sekadar penting untuk kehidupan. Perubahan adalah hidup itu sendiri.&#8221; Paling nggak, kita berubah menjadi baik dari buruk adalah sebuah perubahan yang menentukan hidup kita sendiri.</p>
<p>Islam juga mengajarkan agar kita senantiasa berbuat baik. Jika kebetulan berbuat maksiat, bertobatlah segera. Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri ra. katanya: Nabi saw. bersabda: <em>&#8220;Seorang lelaki dari kalangan umat sebelum kamu telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, lalu dia mencari seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang pendeta, dia terus berjumpa pendeta tersebut kemudian berkata: Aku telah membunuh sebanyak sembilan puluh sembilan orang manusia, adakah taubatku masih diterima? Pendeta tersebut menjawab: Tidak. Mendengar jawaban itu, dia lalu membunuh pendeta tersebut dan genaplah seratus orang manusia yang telah dibunuhnya. Tanpa putus asa dia mencari lagi seseorang yang paling alim. Setelah ditunjukkan kepadanya seorang ulama, dia terus berjumpa ulama tersebut dan berkata: Aku telah membunuh seratus orang manusia. Adakah taubatku masih diterima? Ulama tersebut menjawab: Ya! Siapakah yang bisa menghalangi kamu dari bertaubat? Pergilah ke negeri si fulan, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah. Kamu beribadahlah kepada Allah Swt. bersama mereka dan jangan pulang ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang sangat hina. Lelaki tersebut berjalan menuju ke tempat yang dimaksud. Ketika berada di pertengahan jalan tiba-tiba dia mati, menyebabkan Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab berselish pendapat mengenai orang tersebut. Malaikat Rahmat berkata: Dia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah Swt. Namun Malaikat Azab juga berkata: Dia tidak pernah melakukan kebaikan. Lalu Malaikat yang lain datang dalam keadaan menyerupai manusia dan mencoba menengahi mereka sambil berkata: Ukurlah jarak di antara dua tempat. Mana yang lebih (jaraknya menuju negeri yang dituju), itulah tempatnya. Lantas mereka mengukurnya. Ternyata mereka dapati lelaki tersebut tempat meninggalnya lebih dekat kepada negeri yang ditujunya. Akhirnya dia diambil oleh Malaikat Rahmat&#8221; </em><strong>(HR Bukhari dalam Kitab Kisah Para Nabi, hadis no. 3211)</strong></p>
<p>Oke deh, bertobat lebih hebat ketimbang tetap berbuat maksiat. Kamu bisa kok. Yakin deh.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Apa yang harus kita lakukan?</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>, menyesal.<strong> </strong>Tanpa penyesalan, rasanya sulit untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat. Penyelasan ini kudu benar-benar tumbuh dalam diri kamu. Minta maaf pula kepada orang yang kamu &#8220;kerjain&#8221;. Janji nggak bakal ngulangi lagi. <span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>, niat<strong> </strong>sungguh-sungguh<strong>. </strong>Kuatkan tekad kita untuk menghentikan kebiasaan maksiat. Ada pahala pula di balik niat yang sungguh-sungguh itu. <span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>, cari lingkungan yang mendukung.<strong> </strong>Ini penting banget sobat. Sebab, kalo kamu belum bisa mengubah lingkungan, jangan-jangan kamu yang terwarnai. Kalo lingkungannya baik sih oke aja. Tapi kalo rusak? Bisa gawat kan? Jadi, gaul deh ama teman-teman yang udah baik-baik untuk membiasakan kehidupan kamu yang baru.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>, tumbuhkan semangat untuk mengkaji Islam. Sobat, dengan mengkaji Islam, selain menambah wawasan, juga akan membuat kita tetap stabil dengan &#8220;kehidupan baru&#8221; kita. Maksiat? Sudah lupa tuh! <span style="text-decoration: underline;">Kelima</span>, senantiasa berdoa. Jangan lupa berdoa kepada Allah, mohon dibimbing dan diarahkan, serta dikuatkan tekad kita untuk meninggalkan maksiat. <em>&#8220;Dan Tuhanmu berfirman: &#8220;Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan permohonanmu itu.&#8221;</em> <strong>(QS al-Mukmin [40]: 60)</strong></p>
<p>Yuk, mumpung masih ada waktu, kita mohon ampunan kepada Allah Swt. Bertobat dengan sebenar-benarnya bertobat. Tak mengulangi kemaksiatan yang telah dilakukan dan sebaliknya kita berlomba memperbanyak amal shalih. Semangat! <strong>[dimuat di buletin remaja gaulislam, edisi 116/11 Januari 2010]</strong></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/tobat-sebelum-ajal-mendekat" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/tobat-sebelum-ajal-mendekat/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Infotainment, Selebriti, dan Pemirsa</title>
		<link>http://osolihin.com/infotainment-selebriti-dan-pemirsa</link>
		<comments>http://osolihin.com/infotainment-selebriti-dan-pemirsa#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 13:42:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Coretanku]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[artis]]></category>

		<category><![CDATA[hiburan]]></category>

		<category><![CDATA[infotainment]]></category>

		<category><![CDATA[media massa]]></category>

		<category><![CDATA[selebriti]]></category>

		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Henry Fordf, Sr, dalam The Internasional Jew: The Wolrd Foremost Problem, berkomentar: &#8220;Kita tidak sekadar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah; kita juga melakukan kontrol terhadap alam pikiran dan jiwa anak-anak mereka.&#8221;
Kita sering menyaksikan berita seputar infotainment, misalnya: Luna Maya balik lagi ke Ariel, Nycta Gina lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-369" title="infotainment" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2009/12/infotainment.jpg" alt="infotainment" width="285" height="184" />Henry Fordf, Sr, dalam The Internasional Jew: The Wolrd Foremost Problem, berkomentar: &#8220;Kita tidak sekadar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah; kita juga melakukan kontrol terhadap alam pikiran dan jiwa anak-anak mereka.&#8221;</p>
<p>Kita sering menyaksikan berita seputar infotainment, misalnya: Luna Maya balik lagi ke Ariel, Nycta Gina lagi jengkel, Pasha Ungu aniaya istri, sampe si fulanah kejepit pintu, dan si fulan ketabrak becak dan lain-lain dan sebagainya. Wuah, kejepit pintu ama ketabrak becak aja bisa jadi berita? Nah, itu dia. Berhubung selebriti ini termasuk orbek, maka kejadian or peristiwa yang menurut kita nggak layak jadi berita, malah bisa diekspos dan jadi duit buat pengusaha media. Sama halnya kalo misalnya Presiden Amrik Barack Obama kepalanya ketiban papan penggilasan, itu bakal jadi berita besar. Apalagi diliput CNN, bisa geger seluruh dunia. Berita kecil apapun tentang mereka acapkali menjadi heboh. Dalam bahasa jurnalistik dikenal pameo: name makes news.<span id="more-368"></span></p>
<p>Coba kamu perhatiin deh, berapa banyak majalah or tabloid yang memuat berita tentang para selebritis? Juga, amati ada berapa program acara televisi yang menayangkan seputar sisi kehidupan mereka. Ambil contoh tayangan infotainment yang pernah dan sedang tayang. Semuanya senantiasa hadir terdepan dalam menguliti kehidupan kaum seleb sampe ke yang remeh-temehnya, semua televisi punya prog­ram tersebut. Malah &#8216;gokilnya&#8217; beberapa acara tersebut diputer ulang menjelang shubuh. Beuh!</p>
<p>Bro en Sis, sejak lama acara infotainment itu bikin bete. Sebenarnya kalo dikatakan para seleb butuh infotainment nggak juga sih. Buktinya mereka banyak juga yang nggak suka kalo diusik terus masalah pribadinya. Kasus terbaru Luna Maya yang ngungkapin kekesalannya kepada infotaiment di akun twitter miliknya dengan pernyataan yang cukup kasar bikin geger dunia hiburan, khususnya pihak pengusaha dan pekerja infotainment. Luna bukan yang pertama, dulu ada Parto yang sempat menembakkan pistol ke udara untuk mengusir kerumunan pekerja infotainment yang terus memberondongnya dengan pertanyaan seputar masalah pribadinya. Nicky Astria juga pernah marah-marah ketika pekerja infotainment terus menguntitnya untuk mencari tahu masalah perceraiannya.</p>
<p>Namun anehnya, banyak juga lho masyarakat yang doyan nonton acara infotainment. Padahal, beritanya nggak menarik-menarik amat gitu lho. Ambil contoh, misalnya tentang seleb yang ulang tahun, koleksi sepatunya, atau bagaimana menikmati liburannya. Coba kalo kita yang begitu, nggak bakalan masuk berita. Tapi, karena mereka orbek, maka hal kecil tetap aja menarik di mata media. Juga di matamu. Jiahahah&#8230;!</p>
<p><strong>Tontonan miskin manfaat</strong></p>
<p>Ngomongin soal informasi, berarti kita nggak lepas dari yang namanya komunikasi. Salah satunya adalah komunikasi massa. Maka bermunculanlah media komunikasi seperti koran, majalah, tabloid, televisi, radio, dan yang lainnya. Tujuannya jelas, yakni untuk menyampaikan informasi. Menurut Defleur dan Dennis dalam bukunya <em>Understanding Mass Communication</em> (1985), bahwa &#8220;komunikasi massa adalah suatu proses di mana komunikator-komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus-menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara&#8221;. Catet ya!</p>
<p>Dengan begitu, khusus masalah berita seputar selebritis, maka berita yang disampaikan adalah untuk memberikan gambaran bahwa beginilah dunia kaum seleb. Tapi sayangnya, nggak dibarengi dengan penilaian yang objektif dan memberikan bimbingan. Ya, berita itu dibiarkan meluncur dan pembaca atau penonton sendirilah yang kudu menyimpulkan. Wuah, bahaya besar nih namanya.</p>
<p>Bro en Sis, kita tahu sama tahu deh, bahwa berita kayak begituan itu hanya ngabisin secara sia-sia jatah energi kita untuk mikirin masalah lainnya. Tanpa maksud memvonis teman remaja, yang itu berarti kamu termasuk di dalamnya, saya mencoba memberikan fakta bahwa remaja sekarang kebanyakan lebih memilih menjalani kehidupan ini dengan nyantai. Ini memang disebabkan karena pengaruh lingkungan juga tuh.</p>
<p>Walhasil, dalam hidup ini kita jadi orang yang dimanja dengan model kehidupan yang &#8220;adem ayem&#8221;. Pagi-pagi, saat bangun tidur, ada teman remaja yang langsung menyalakan radio dan dengerin musik pagi, karena kebetulan doi termasuk remaja yang malas bangun shubuh. Padahal biasanya kalo shubuh acara radio maupun televisi berkaitan dengan persoalan agama. Ketika berangkat sekolah, teman-teman di sana udah ngerumpi tentang film, sinetron, selebritis, bintang NBA, juga pahlawan-pahlawan di EPL atau ISL, misalnya. Bacaan yang dipelototi bukan lagi pelajaran kimia, matematika, biologi, bahasa dan lainnya, tapi yang dibaca adalah majalah remaja yang mengupas abis tren, gaya, dan gosip selebriti lokal maupun mancanegara. Siang sampe sore hari, televisi sudah siap dengan acara infotainment dan itu mesti ada hubungannya dengan kaum selebriti.</p>
<p><strong>Membius akal sehat</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Bro en Sis, kita benar-benar dikepung dari segala arah. Nyaris nggak bisa lepas dari suguhan beragam tayangan murahan dari semua stasiun televisi. Selain infotainment, marak juga sinetron yang nggak mendidik. Menyedihkan banget.</p>
<p>Inilah pertarungan budaya yang memaksa kita jadi korbannya. Kita menerima dan menyukai karena banyak tersedia. Bukan karena kita butuh. Tayangan televisi banyak yang kental banget dengan budaya pop. Kamu tahu budaya pop? Kata orang pinter, budaya pop adalah budaya yang ringan, menye­nangkan, trendi, dan cepat ber­ganti.</p>
<p>Kritikus Lorraine Gam­man dan Marga­ret Marshment, keduanya pe­nyunting buku <em>&#8220;The Female Ga­ze: Women as Viewers of Popu­lar Culture (1998)&#8221;</em>, berse­pakat bah­wa bu­daya popu­ler adalah sebu­ah medan pergu­latan ketika me­ngemukakan bah­wa tidaklah cu­kup bagi kita untuk semata-mata menilai bu­daya populer se­bagai alat kapi­talisme dan pat­riarki yang menciptakan kesadaran palsu di kalangan banyak orang. Bagi mereka, budaya populer juga tempat dipertarungkannya makna dan digugat­nya ideologi dominan. Hmm.. waspadalah!</p>
<p>Celakanya, dalam pertarungan tersebut, siapa pun bisa terlibat dalam lingkarannya. Termasuk tentunya remaja. Perang ideologi nggak bisa dihindarkan lagi sobat, alias kudu pasti terjadi benturan. Lucunya, acapkali kita, kalangan remaja, udah merasa <em>down</em> duluan dari pada harus bertarung melawan budaya terse­but. Halah, ini untuk tidak mengatakan kalo remaja biasanya pura-pura tidak tahu apa-apa, dan lebih memilih &#8220;terbawa&#8221; arus budaya yang lebih kuat. Parahnya lagi, seperti diakui banyak pengamat, bahwa budaya populer yang sekarang lagi ngetren bergerak amat cepat. Saking cepatnya, sampe tanpa sadar kita dipaksa patuh dengan <em>logic of capital</em>, logika proses produksi, yakni hal-hal yang dangkal dan cepat ditangkap yang cepat laku. Inilah yang sering dijuluki sebagai <em>instans culture</em>.</p>
<p>Anthony Giddens menyebutnya sebagai dunia yang sedang berlari dan semua yang selalu berlari satu <em>track</em> lebih tinggi ini memang tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan lebih dalam. Yang penting dalam dunia ini adalah menjual dan membeli. Nah, lho.</p>
<p>Para pengusaha televisi juga kayaknya doyan menyihir pemirsa. Demi mengeruk banyak uang, mereka rela meracuni anak bangsa. Kita benar-benar dibius dengan tayangan murahan seperti itu. Akibatnya, jangan kaget kalo ada pemirsa yang akhirnya bertindak nekat karena merasa benar dengan apa yang ditayangkan televisi. Inilah kalo dalam bahasa komunikasi ada sebuah efek yang namanya efek spiral kebisuan. Artinya kalo info itu salah sekalipun, tapi ditayangkan berulang-ulang bisa berubah jadi &#8216;benar&#8217;, lho.  Apalagi nggak ada tayangan tanding­an­nya. Udah deh, <em>wassalam</em> itu mah. Ckckck&#8230;</p>
<p>Itu sebabnya, pakar komunikasi seperti Mc.Luhan, yang juga penulis buku <em>Understanding Media: The Extensive of Man</em>, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Yup, dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi.</p>
<p>Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut <em>&#8220;gatekeeping&#8221;</em> lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang &#8220;darah dan dada&#8221; (<em>blood and breast</em>) dari pada tentang contoh dan teladan. Itu sebabnya, kita nggak bisa, atau bahkan nggak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. Bener-bener membius akal sehat!</p>
<p><strong>Bikin malas</strong></p>
<p>Sobat muda muslim, kalo kamu membaca tradisi kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, juga para ulama salaf, kayaknya kita kudu malu deh. Kenapa? Kehidupan mereka nyaris menyatu dengan persoalan-persoalan ilmu dan ketakwaan. Kamu pernah dengar nama Imam Syafi&#8217;i kan? Nah, salah satu imam madzhab ini layak dijadiin teladan dalam semangatnya mencari ilmu. Beliau punya semboyan begini: &#8220;Carilah ilmu sebagaimana halnya seorang ibu yang kehilangan anak gadisnya&#8221;. Ehm, itu sebabnya, beliau menguasai berbagai macam bidang kehidupan. Beliau jadi seorang mujtahid, yakni orang yang bisa menggali dalil syara, kemudian berpendapat tentang suatu persoalan kehidupan. Manfaatnya pun terasa sama kita sampai saat ini.</p>
<p>Kondisi saat ini bagaimana? Walah, berita-berita seputar kehidupan selebritis malah mengalahkan berita yang lainnya. Di hampir semua stasiun televisi swasta, ada acara infotaiment. Di majalah remaja, tabloid remaja, berita soal seleb juga hadir dalam kemasan yang eksklusif. Duh, bener-bener kita digempur dari sana-sini.</p>
<p>Maka nggak usah heran kalo banyak teman remaja lebih hapal grup-grup musik dan lagu-lagunya ketimbang persoalan politik, ekonomi, sosial, hukum, apalagi pemerintahan. Ah, nggak tega kalo harus nyebut buta banget mah. Lho kok ini nyebut sih? (Bukan, ini nulis, kok) Huhuy!</p>
<p><strong>Nyadar<em> ngapa</em>?</strong></p>
<p>Bukan saya merasa sok benar sendiri, apalagi sok suci. Tapi maksud saya adalah supaya kamu juga mulai berpikir lebih rasional, serius, dan dapat menghasilkan karya positif. Jadi otak kamu benar-benar produktif.</p>
<p>Sebab, Allah Swt. telah membimbing kita untuk memberdayakan otak kita dengan hal-hal yang benar dan baik. Sebagai contoh, firmanNya (yang artinya): <em>Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. </em><strong>(QS al-&#8217;Alaq [96]: 1-5)</strong></p>
<p>Penjelasan ayat ini mengajak kita untuk memaksimalkan peran otak untuk mendukung akal dalam berpikir. Jadi, mulai saat ini, bersikaplah bijak. Tontonan dan bacaan seputar kehidupan selebritis, mulai sekarang sedikit demi sedikit dikurangi, dan lebih banyak menyantap berita-berita yang erat hubungannya dengan masalah kehidupan kaum muslimin.</p>
<p>Oke deh, sekarang saya mau tanya-khususnya kepada kamu yang doyan dan getol mengikuti liku kehidupan kalangan seleb, apa sih yang selama ini kamu dapatkan? Terus aplikasinya ke mana? Kerasa nggak manfaatnya?</p>
<p>Bandingkan bila kamu membaca tulisan atau menonton tayangan yang berguna; misal berita tentang korban perang, kabar tentang masa depan politik suatu negara, bagaimana sepak terjang Amrik dalam mengobok-ngobok dunia ketiga (baca: negeri-negeri Islam). Siapa tahu setelah membaca berita model begitu, kamu bisa marah, kamu bisa terharu, dan kamu pun bisa berbagi suka dan duka. Bukan tak mungkin bila kemudian dirimu tergerak untuk memikirkan dan menolong mereka. Hebat bukan? Dan itu jelas manfaatnya.</p>
<p>Otak kita pun dilatih untuk berpikir serius alias tidak nyantai. Beda banget dengan menyantap berita soal selebritis, itu berita ringan dan miskin manfaat. Ya, kalo pun kudu baca, anggaplah buat selingan aja, bukan pokok. Tapi celakanya, sekarang kan nggak begitu. Banyak teman remaja yang justru menjadikan berita tentang selebriti sebagai menu utama dalam bacaan dan tontonannya. Walah, celaka dua belas ini mah!</p>
<p>Boys and gals, kalo kita perhatiin, di balik gencarnya berita tentang selebritis ini, paling nggak kita melihat tiga bahaya besar yang mengancam. Pertama, menuntun pambaca dan penonton menuju kejumudan berpikir. Kedua, memalingkan pembaca dan penonton dari masalah yang seharusnya mendapat perhatian lebih. Ketiga, menyuburkan tradisi <em>ghibah</em>.</p>
<p>Akhirnya, memang kudu ada sikap tegas juga dari bapak-bapak pejabat kita di atas dalam bertindak. Kalo nggak, jajanan baru ini akan bikin generasi masa depan kita buram, jumud, malas, dan nggak produktif. Hih, syerem! <strong>[dimuat di <a href="http://www.gaulislam.com/infotainment-selebriti-dan-pemirsa" target="_blank">buletin remaja gaulislam</a>, edisi 114]</strong></p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/infotainment-selebriti-dan-pemirsa" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/infotainment-selebriti-dan-pemirsa/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Menulis dan Berbicara</title>
		<link>http://osolihin.com/antara-menulis-dan-berbicara</link>
		<comments>http://osolihin.com/antara-menulis-dan-berbicara#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 12:19:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>osolihin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Menulis Yuk!]]></category>

		<category><![CDATA[berbicara]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<category><![CDATA[motivasi menulis]]></category>

		<category><![CDATA[penulis]]></category>

		<category><![CDATA[tips menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://osolihin.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis setidaknya membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih. Sementara berbicara mungkin cuma butuh pembiasaan saja. Indera yang dibutuhkan ketika belajar berbicara terdiri dari mata, telinga, dan lidah. Mata untuk melihat gerakan yang dilakukan orang yang akan kita contoh untuk bicara, terutama melihat gerakan mulut dan mimik muka. Telinga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-365" title="studentswriting" src="http://osolihin.com/wp-content/uploads/2009/12/studentswriting-300x224.jpg" alt="studentswriting" width="300" height="224" />Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis setidaknya membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih. Sementara berbicara mungkin cuma butuh pembiasaan saja. Indera yang dibutuhkan ketika belajar berbicara terdiri dari mata, telinga, dan lidah. Mata untuk melihat gerakan yang dilakukan orang yang akan kita contoh untuk bicara, terutama melihat gerakan mulut dan mimik muka. Telinga untuk mendengar kata yang diucapkan, dan lidah berusaha untuk mengikutinya dengan kata yang kita upayakan untuk dikeluarkan. Itu sebabnya, anak kecil yang sehat dan normal (matanya dapat melihat, telinganya dapat mendengar, dan lidahnya bisa digerakkan untuk berkata) maka umumnya akan dengan mudah mengikuti. Itu memerlukan pembiasaan sembari mengasah kemampuan dan reflek tiga indera tadi. Jadi, anak kecil yang ingin belajar bicara tak memerlukan belajar huruf-huruf terlebih dahulu, tak butuh juga dengan seabrek teori retorika (apalagi teori menulis), dan bagaimana merangkai kata yang baik. Ia, akan dengan spontan mengikuti setiap huruf yang diucapkan orang lain (entah ibunya, ayahnya, kakaknya, atau temannya dll). Mereka (termasuk kita) bisa belajar bicara tanpa keterampilan yang rumit. Mengalir apa adanya.</p>
<p>Nah, sementara menulis, ini memerlukan keterampilan tambahan. Bahkan motivasi tambahan pula. Karena apa? Karena menulis&#8211;selain bukan bakat, juga karena menulis memang sangat berbeda dengan berbicara. Banyak orang bisa berbicara, bahkan fasih, meski ternyata ia buta huruf. Sementara orang yang bisa menulis, sangat mustahil bila ia penderita buta huruf. Mungkin ini pula yang membedakan kemampuan setiap orang dalam menulis. Intinya, nggak semua orang bisa menulis, meski berbicaranya sangat fasih dan bahkan retorikanya bagus. Oya, meski bicaranya tidak bagus, tapi minimal ia memang bisa bicara. Bisa berkomunikasi secara verbal (kata-kata) dengan orang lain. Iya nggak?</p>
<p>Jadi menurut saya sih, orang yang bisa menulis adalah orang yang seharusnya merasa bahagia. Karena apa? Karena bisa melakukan keterampilan yang jarang dilakukan oleh orang yang sehat dan normal lainnya. Umumnya, semua orang yang sehat dan normal bisa berbicara, tapi tak semua dari mereka bisa menulis. Ini pun dikelompokkan jadi dua: pertama, orang yang tidak bisa menulis sama sekali alias buta huruf; dan kedua, orang yang tidak bisa menulis dalam pengertian menyampaikan pesan lewat tulisan. Dari dua kelompok itu, mereka sama-sama bisa berbicara, tapi nggak bisa menulis. Betul ndak?</p>
<p><strong>Ayo menulis!</strong></p>
<p>Alirkan ide-idemu untuk berkarya lewat tulisan. Rugi banget kalo sampe nggak mencoba untuk bisa menyampaikan pesan yang kita inginkan lewat tulisan. Padahal, itu sangat unik, menyenangkan, dan menarik dibanding berbicara. Kita emang bisa menyampaikan pesan lewat kata-kata (berbicara), tapi tak selamanya pesan bisa sampe dengan mudah. Jika kamu menelepon seseorang, ingin mengerahkan kemampuanmu untuk menyampaikan kehebatanmu dalam berbicara untuk mempengaruhi dia, sementara ponselnya pas kamu nelepon nggak diaktifkan, itu artinya ada hambatan. Apa yang ingin kamu sampaikan menemui jalan buntu. Minimal harus menunggu sampe ponsel temanmu diaktifkan.</p>
<p>Dan lagi nih, kamu tentunya nggak bisa terus-menerus berada dalam kondisi siap untuk menelepon. Adakalanya, kamu justru berada dalam kondisi harus menyampaikan pesan lewat tulisan. Misalnya kamu sibuk, sementara untuk memberi tahu teman kamu dengan berbicara di telepon akan memakan waktu, apalagi kalo kamu seneng ngobrol. Maka, langkah efektif adalah dengan mengirim SMS ke ponselnya, atau mungkin kirim e-mail, atau bisa aja nulis memmo untuknya karena ketika kita sampe ke rumahnya dia nggak ada. Kita tempelin deh memmo berisi pesan tertulis kita. Tapi, itu pun masih dengan catatan: ia aktifkan ponselnya; buka e-mail, dan tak sedang keluar kota. Berarti ini soal kendala teknis. Terlepas dari itu, keterampilan menulis tetap harus dimiliki. Minimal sebagai keterampilan pelengkap untuk menyampaikan pesan bagi yang sudah terbiasa dan mahir retorikanya dalam berbicara. Setuju?</p>
<p>Sobat, nggak usah dibikin rumit ketika kita akan menulis. Saya juga termasuk yang bisa menulis bukan berawal dari teori. Saya menulis, kalo saya pengen nulis apa yang membuat saya lega ketika menuliskannya. Saya menulis surat buat teman dan orangtua saya, menulis puisi, menulis catatan harian, bahkan saya menulis cerpen meski ketika dibaca lagi seringnya nggak nyambung. Tapi, saya berkeras ingin bisa menulis. Waktu SMP, ketika seneng nulis, saya nggak punya mimpi jadi penulis. Saya hanya seneng aja setiap kali membaca buku sejak SD. Dalam pikiran saya, &#8220;Saya bisa membaca dan mudah untuk mengerti pesan yang disampaikan penulisnya, pasti si penulis itu adalah orang yang hebat dalam menyampaikan pesan secara tertulis.&#8221; Sejak saat itu saya secara sederhana ingin juga bisa menulis. Tapi tetep belum kepikiran ingin jadi penulis. Biasa aja gitu.</p>
<p>Hasilnya? Alhamdulillah, rupanya pembiasaan dalam menulis apa saja yang ingin saya tulis, sekaligus sebagai latihan &#8216;alamiah&#8217; untuk melancarkan jari tangan saya menulis (waktu itu saya belum punya mesin tik, apalagi komputer). Kebiasaan saya menulis bukan hanya melancarkan jari tangan saya menulis di kertas, tapi sekaligus melatih pilihan kata yang hendak saya tulis dan juga melancarkan sistematika dalam alur penulisan pesan yang saya inginkan. Inilah uniknya keterampilan menulis. Setidaknya menurut saya, lho.</p>
<p>Jadi, biasakan untuk melatih menulis. Terus dan terus. Nggak usah ada beban dulu. Pokoknya nulis. Jangan takut salah, nggak perlu khawatir tulisannya nggak enak dibaca, yang penting mencoba dan terus belajar. Salah-salah dikit sih kita bisa menghibur diri dengan nyontek semboyan di iklan pembersih pakaian, &#8220;Nggak ada noda, ya nggak belajar&#8221;. Menulis itu butuh ketekunan, jangan patah semangat jika baru nulis sekali dan jelek. Itu belum cukup, kalo kamu nggak terus melatih diri untuk menulis. Bukankah benteng Mesir tidak ditaklukkan dengan sekali peperangan? Bukankah ketika kita belajar menuliskan abjad dan angka saja nggak sekali langsung bisa? Ya, belajar menulis tidak instan, tapi harus ditekuni dan sabar, serta penuh semangat, plus motivasi kuat.</p>
<p>Oya, sebenarnya bicara juga membutuhkan keterampilan tambahan, meski awalnya &#8216;naluriah&#8217;, tapi tetap kudu dipelajari bagaimana santun dalam berbicara, berkata yang baik, dan apa yang harus dikatakan dengan tepat kepada siapa yang diajak bicara. Nah, untuk tingkat lanjutannya sih memang harus belajar juga. Sama seperti menulis. Tapi, langkah awalnya aja yang beda. <em>Start</em>-nya yang beda. Kalo berbicara, secara &#8216;naluriah&#8217; sejak kecil kita yang sehat dan normal langsung udah belajar dan bahkan bisa bicara, sementara menulis (menuliskan abjad dan angka), minimal rata-rata bisa nulis secara umum adalah ketika kita diajarin di sekolah (meski sebelum sekolah kita udah pada bisa bicara). Tul nggak?</p>
<p>Eh, waktu kecil juga kita udah bisa menulis abjad dan angka, tapi inget ya bahwa pengetahuan tersebut saja belum cukup untuk menyampaikan pesan lewat tulisan jika nggak belajar bagaimana cara merangkai kata yang baik. Nah, jadi beda kan? Ehm, jadi menulis emang keterampilan yang unik dan sekaligus menarik. Setidaknya ini menurut saya, lho.</p>
<p>Sobat, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin tekankan bahwa ada yang perlu diperhatikan dan diingat, bahwa jika kita nggak bisa menulis dengan baik, maka pesan itu pun sulit juga dimengerti oleh pembaca tulisan kita. Sebagai pemberi pesan (komunikator), tentunya kita harus sebaik mungkin dalam menyampaikan pesan agar mudah dipahami oleh komunikan alias si penerima pesan. Tentunya, untuk semua itu yang dibutuhkan bukan hanya kebiasaan kita menulis, tapi juga ilmu dan wawasan buat tambahan kita. Yup, agar pesan yang kita sampaikan juga dimengerti, bahkan dipahami dengan mudah oleh penerima pesan. Soal ini, insya Allah akan saya jembrengin di lain kesempatan. Setuju ya?</p>
<p>Oke deh, sampe sini dulu. Insya Allah lain kali saya cerita lagi. Jangan berhenti nulis!</p>
<p>Salam,<br />
O. Solihin</p>
<p class="fbconnect_share"><fb:share-button class="url" href="http://osolihin.com/antara-menulis-dan-berbicara" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://osolihin.com/antara-menulis-dan-berbicara/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
